<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The Journey of My Life</title>
	<atom:link href="http://ongoingformation.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ongoingformation.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Jan 2010 01:26:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ongoingformation.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>The Journey of My Life</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ongoingformation.wordpress.com/osd.xml" title="The Journey of My Life" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ongoingformation.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>6 CARA MEMULAI HIDUP PENUH SEMANGAT</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2010/01/22/6-cara-memulai-hidup-penuh-semangat/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2010/01/22/6-cara-memulai-hidup-penuh-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 01:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sprituality]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Alangkah indahnya jika setiap kali akan beraktivitas diawali dengan senang dan riang. Tapi jangankan senang, melihat kemacetan lalu lintas dan membayangkan deadline yang sudah di depan mata akan membuat Anda lemas dan malas menyongsong hari baru. Apakah Anda tahu cara mengawali hari Anda yang dapat mempengaruhi seluruh hari ini? Cara-cara berikut mungkin bisa membantu Anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=107&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alangkah indahnya jika setiap kali akan beraktivitas diawali dengan senang dan riang. Tapi jangankan senang, melihat kemacetan lalu lintas dan membayangkan deadline yang sudah di depan mata akan membuat Anda lemas dan malas menyongsong hari baru. <span id="more-107"></span>Apakah Anda tahu cara mengawali hari Anda yang dapat mempengaruhi seluruh hari ini?</p>
<p>Cara-cara berikut mungkin bisa membantu Anda memulai dengan penuh semangat.</p>
<p><strong>Jalan-jalan Pagi</strong></p>
<p>Aktivitas jalan pagi memiliki banyak manfaat. Selain membuat tubuh tetap bugar, jalan-jalan pagi membuat Anda siap untuk menghadapi hari ini, tidur lebih nyenyak di malam hari dan sekaligus membantu menurunkan tingkat stress Anda. Jika Anda merasa berat untuk jalan-jalan pagi sendirian, ajak pasangan Anda atau binatang piaraan Anda (anjing, misalnya).</p>
<p><strong>Teh Hijau</strong></p>
<p>Minum secangkir the hangat, terutama teh hijau yang kandungan antioksidan, akan membuat Anda lebih segar. Hal ini disebabkan karena antioksidan merawat sel tubuh sehingga selalu sehat.</p>
<p><strong>Mandi Air Hangat</strong></p>
<p>Mandi dengan air hangat membuat otot-otot rileks dan Anda bisa melakukan sedikit gerakan <em>stretching</em> (peregangan otot) agar tubuh tidak kaku. <em>Stretching </em>dapat melemaskan otot-otot yang tegang dan memungkinkan Anda untuk memulai hari ini dengan lebih rileks dan tenang. Tentu saja, jika Anda merasa tenang, Anda sanggup mengatasi masalah-masalah yang akan datang hari ini.</p>
<p><strong>Sarapan</strong></p>
<p>Sarapan adalah <em>the most important meal of the day</em>. Sarapan yang sehat dapat meningkatkan kadar gula dalam darah dan memberikan Anda kekuatan untuk menghadapi hari secara fisik dan mental. Tanpa sarapan, Anda akan lemas dan kurang bisa berkonsentrasi. Jadi, pastikan sarapan Anda terdiri dari protein dan buah.</p>
<p><strong>Menulis Jurnal</strong></p>
<p>Menulis jurnal atau blog memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan manajemen stress. Menuliskan peristiwa yang Anda alami setiap hari dapat meningkatkan kualitas diri karena membantu Anda lebih focus, mengolah emosi dan membantu Anda untuk mengatasi masalah yang Anda hadapi.</p>
<p><strong>Mendengarkan Musik</strong></p>
<p>Terapi music sudah dikenal dapat mengurangi stress dan berefek positif pada kesehatan. Tidak perlu seorang ahli untuk bisa mendapatkan terapi musik ini. Musik akan memberikan energi positif dan ketenangan psikologis. Musik juga bisa mendukung gaya hidup sehat. Misalnya saja musik mendorong Anda untuk melakukan meditasi, yoga, atau musik yang sedikit nge-<em>beat </em>untuk menstimulasi Anda berolahraga.</p>
<p>Syukurilah semua yang dikaruniakan Tuhan dengan CARA HIDUP YANG LEBIH BERMARTABAT. Ketika Anda mampu mensyukuri, semuanya akan terasa indah.</p>
<p>Tuhan memberkati.</p>
<p>Shalom and peace.</p>
<p>(disarikan dari Majalah “Warta Paragonz”, Mei 2009 Tahun XXIII, hal. 35)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=107&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2010/01/22/6-cara-memulai-hidup-penuh-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VERONICA</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/12/veronica/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/12/veronica/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 23:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga/Family]]></category>
		<category><![CDATA[Honiara]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu kota]]></category>
		<category><![CDATA[Isteri]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Skill]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>
		<category><![CDATA[Veronica]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/12/veronica/</guid>
		<description><![CDATA[Veronica kecil terus menangis digendong Veronica besar. Veronica kecil belum genap berusia setahun, sementara Veronica besar sekitar 7 – 8 tahun. Keduanya kakak beradik. Keduanya bernama Veronica. Veronica kecil yang telanjang bulat terus menggeliat dan meronta-ronta sambil menangis yang membuat tubuh mungil kakaknya kerepotan menggendong dan menahan si kecil Veronica agar tidak jatuh. Veronica besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=106&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Veronica kecil terus menangis digendong Veronica besar. Veronica kecil belum genap berusia setahun, sementara Veronica besar sekitar 7 – 8 tahun. Keduanya kakak beradik. Keduanya bernama Veronica. <span id="more-106"></span>Veronica kecil yang telanjang bulat terus menggeliat dan meronta-ronta sambil menangis yang membuat tubuh mungil kakaknya kerepotan menggendong dan menahan si kecil Veronica agar tidak jatuh. Veronica besar hanya memakai rok pendek sementara bagian atas tubuhnya yang hitam legam dibiarkan telanjang. Kedua tubuh mungil itu akhirnya tampak kelelahan karena meronta dan menahan. Setiap hari semenjak aku datang di kampung Nari’aoa, kedua bocah mungil itu selalu bermain di sekitar rumah tempatku tinggal. Tangisan dan lolongan bayi Veronica menghiasi keseharianku di kampung ini.</p>
<p>“Berapa jumlah saudaramu?” tanyaku suatu hari pada Veronica besar.</p>
<p>“<em>Gak </em>tahu!” jawabnya.</p>
<p>“Lho, kok kamu tidak tahu?”</p>
<p>“<em>Mi garem tufala sista an brata long Honiara. Tufala nomoa olketa dae finis”</em>, Veronica menjawab pertanyaan keherananku dalam bahasa Pidjin Solomon. Artinya, dia memiliki dua saudara laki-laki dan perempuan di Honiara, sementara dua lainnya sudah meninggal.</p>
<p>Kucoba menghitung. Ada empat saudara yang tidak dikenalnya, sementara ada empat orang anak yang tinggal di rumah mereka termasuk Veronica besar dan kecil. Jadi, berarti mereka ada delapan bersaudara bila keterangan Veronica benar.</p>
<p>Veronica besar memang sudah bisa diajak berbicara seperti orang dewasa meski usianya baru sekitar 7 – 8 tahun. Dia pun nampak sudah terbiasa menggendong adiknya ke sana ke mari. Ibunya jarang sekali muncul di rumah. Mungkin saja dia mengurus ladang yang letaknya cukup jauh dari kampung. Beberapa orang kampung yang kutanyai mengatakan bahwa suaminya tidak jelas kerjanya. Sudah tiga tahun ini dia merantau ke ibukota Honiara, tapi tetap saja dia menganggur di sana, lantas tidak mau kembali lagi ke kampung. Isteri dan anak-anak yang masih kecil di kampung ditinggalkannya, sementara anak-anak yang di kota menjadi beban bagi sanak familinya yang lain.</p>
<p>Fenomena orang meninggalkan kampung dan memilih hidup di ibu kota Honiara cukup sering terjadi di Solomon. Banyak orang tertarik merantau dan mengadu nasib di ibu kota Honiara, meninggalkan anak-anak dan isteri atau suami di kampung. Daya tarik ibu kota amat besar bagi orang-orang kampung.</p>
<p>Veronica besar tidak bersekolah. Dalam keseharian, tugasnya adalah menjaga adik-adiknya, menggantikan peran ibunya sementara berladang atau melaut mencari ikan. Tidak jarang terjadi Veronica kecil terjatuh atau merangkak masuk ke selokan di dekat rumah karena Veronica besar melepaskannya. Veronica besar juga mau bermain-main tanpa merasa diganggu oleh adiknya. Melihat Veronica besar, hatiku tumbuh oleh rasa empati. Saat-saat bermainnya menjadi berkurang karena tugasnya menjaga adiknya. Saat-saatnya bersosialisasi dengan teman-teman sepermainan hilang karena dia mesti selalu di rumah menggantikan peran ibunya; sementara ibunya bekerja menyambung hidup untuk menggantikan peran suaminya.</p>
<p>Di Solomon, ada cukup banyak anak seperti Veronica kecil dan Veronica besar. Mereka ditinggalkan oleh kedua orang tua karena merantau. Persoalan ekonomi seringkali menjadi kambing hitam. Tapi lebih dari itu, anak-anak itu sesungguhnya adalah korban dari mengeraknya masalah sosial, terutama persoalan ketiadaan sarana pendidikan dan <em>skill </em>yang menjadi masalah sosial yang utama yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah. Banyak orang kampung merantau ke ibukota tanpa bekal yang cukup untuk mendapatkan mata pencaharian. Akhirnya, mereka menambah barisan panjang pengangguran di ibu kota (yang tentu membawa risiko kenaikan tingkat kriminalitas ibu kota), sementara anak-anak di kampung juga semakin kehilangan figur orang tua serta segala kesempatan yang mereka perlukan untuk bertumbuh secara wajar.</p>
<p>Aku memilin rambutku, memikirkan semua itu, sementara di depanku Veronica besar kembali “bergulat” menahan Veronica kecil yang kembali meronta-ronta minta turun dari gendongan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>END OF JUNE, 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=106&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/12/veronica/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“IMAN YANG MENJAGA DALAM KETIDAKPASTIAN”; KISAH PERJALANAN LAUT PERTAMAKU KE HONIARA</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/11/%e2%80%9ciman-yang-menjaga-dalam-ketidakpastian%e2%80%9d-kisah-perjalanan-laut-pertamaku-ke-honiara/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/11/%e2%80%9ciman-yang-menjaga-dalam-ketidakpastian%e2%80%9d-kisah-perjalanan-laut-pertamaku-ke-honiara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 23:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turne Misi (My Mission Journey)]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Kapal]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketidakpastian]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Badai]]></category>
		<category><![CDATA[Uploading]]></category>
		<category><![CDATA[Unloading]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[KETIDAKPASTIAN PERJALANAN Malam itu adalah hari Selasa, tanggal 7 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 23.20. Dengan bergegas kami berjalan menyusuri jalan setapak menurun menuju ke pantai di Rochera. Dibutuhkan waktu selama 30 menit untuk menyusuri jalan setapak itu agar kami sampai di pantai di Rochera. Terang bulan amat benderang yang membuat malam itu seperti sore [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=100&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KETIDAKPASTIAN PERJALANAN</strong></p>
<p>Malam itu adalah hari Selasa, tanggal 7 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 23.20. Dengan bergegas kami berjalan menyusuri jalan setapak menurun menuju ke pantai di Rochera. <span id="more-100"></span>Dibutuhkan waktu selama 30 menit untuk menyusuri jalan setapak itu agar kami sampai di pantai di Rochera. Terang bulan amat benderang yang membuat malam itu seperti sore hari. Aku masih mengantuk. Beberapa menit lalu, tidur lelapku diputus oleh ketukan pintu kamar. Seseorang membangunkanku dan mengajakku segera berangkat. Untungnya, segala perbekalan dan tas sudah kusiapkan sejak siang harinya sehingga aku sudah siap berangkat kapan pun.</p>
<p>Malam itu kami berangkat meninggalkan kampung Koukousurisau yang kutinggali pada hari-hari terakhir ini selama hampir dua minggu. Kami menuju <em>port </em>di Afio. Di Afio, kami akan menunggu kapal yang baru datang dari Honiara. Perahu terbuat dari aluminium sudah menunggu kami di pantai di Rochera. Perahu bermesin 25 HP (Horse Power) itu siap mengantar kami ke Afio.</p>
<p>Perjalanan dengan perahu dari Rochera ke Afio membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Laut cukup tenang malam itu sehingga perjalanan lancar. Kecipak air terdengar memecah di antara aluminium <em>boat </em>dan beberapa kali <em>menciprat </em>naik, yang membuat kami beberapa kali mesti mengusap wajah yang basah oleh air laut. Sinar terang bulan amat membantu <em>driver </em>untuk menghindari karang-karang berbahaya yang bisa mengganggu perjalanan kami. Kami berenam orang di perahu itu, duduk diam-diam sambil berharap agar malam itu kami mendapatkan tempat di kapal, sebab diduga kapal akan sarat oleh penumpang. Pergelangan tangan dan sendi-sendiku tiba-tiba agak mengejang. Perutku melilit. Ini adalah tanda-tanda kegugupan. Ya, aku gugup. Ada begitu banyak kepastian dalam perjalananku kali ini. Perjalanan malam itu pun berbekal ketidakpastian ke mana kapal akan membawa kami dan berapa hari kami akan berada di atas kapal sebelum kami betul-betul bisa balik lagi ke Honiara. Belum lagi kekhawatiran akan perbekalan yang bisa habis setiap saat karena ketidakpastian lamanya perjalanan laut. Bahkan, ketika kapal siap berangkat pun, ada kemungkinan perjalanan ditunda pada detik-detik terakhir bila ada tanda-tanda bahaya ombak dan badai laut. Ada begitu banyak ketidakpastian dalam perjalanan kami yang membuatku gugup. Kami bisa terkatung-katung dalam perjalanan setiap saat.</p>
<p><strong>DARI AFIO KE SOUTH MARAMASIKE</strong></p>
<p>Begitu sampai di Afio, kami segera merapat ke pantai dan mendarat. Kami segera menemukan pasar yang kosong malam itu sebagai tempat darurat untuk meneruskan istirahat sampai kapal tiba dari Honiara. Di tengah kerumunan nyamuk jumlahnya puluhan, serta deru angin laut yang kadang-kadang cukup kencang, dan lantai pasar yang cukup dingin, aku segera meneruskan tidurku sebisa mungkin agar aku punya cukup waktu untuk istirahat. Di kapal, aku jelas tidak bisa beristirahat.</p>
<p>Pada pk. 04.30 tanggal 8 Juli 2009, hari Rabu dini hari, kami <em>boarding</em> kapal di Afio setelah selama hampir dua setengah jam kami bersabar menunggu kapal <em>unloading</em> di dermaga. Selama hari itu, kami akan mengikuti kapal ke arah selatan pulau Maramasike (<em>Small Malaita</em>) untuk <em>unloading</em> di setiap <em>port</em>. Dari <em>port </em>ke <em>port</em> di beberapa kampung besar ke arah selatan pulau Maramasike, kapal melakukan <em>unloading</em>. Proses <em>unloading</em> untuk setiap <em>port </em>memakan waktu cukup lama, bisa sampai tiga jam. Ada begitu banyak penumpang dan material bisnis (<em>market</em>) yang diturunkan. Selain itu, di seluruh <em>port</em> di wilayah selatan pulau Maramasike tidak ada dermaga sehingga proses <em>unloading </em>dilakukan di tengah laut dengan bantuan satu motor boat. Sementara kapal berhenti di laut, motor boat bisa bolak-balik 4 – 5 kali dari kapal ke pantai untuk membawa penumpang dan material.</p>
<p>Kampung terakhir untuk <em>unloading </em>adalah Malo’u. Waktu itu jam sudah menunjukkan pk. 18.30. Jadi, sehari penuh kapal mengitari pulau Maramasike dan melakukan <em>unloading</em>. Kapal baru bisa menaruh jangkar dan berlabuh di kampung Fanalei sekitar pk. 19.00. Malam itu kami tidur di kapal untuk menunggu perjalanan esok harinya.</p>
<p>Kali ini kegugupanku mulai mereda setelah ada kepastian bahwa kami boleh tidur di kapal. Semula ada berita bahwa para penumpang harus turun dari kapal dan tidur di pulau Fanalei. Hal itu jelas tidak mungkin bagiku. Aku tidak mengenal siapa pun di Fanalei. Lagipula jelas tidak ada tempat penginapan di situ, sebab Fanalei adalah sebuah pulau karang kecil. Aku semakin merasa tenang ketika mengetahui bahwa kebanyakan penumpang yang malam itu mengikuti kapal adalah orang-orang kampung Kouousurisau yang sudah mengenalku. Bahkan di luar dugaanku, seorang gadis menawariku sepiring nasi, ketela, dan satu paha ayam. Rasanya tawaran ini begitu istimewa bagiku di tempat asing seperti ini. Oh, terima kasih, ucapku padanya.</p>
<p>Sore itu, aku melakukan doa Ibadat Sore hari Rabu pekan ke dua di lambung kapal, sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam. Cahayanya yang temaram kuning kecoklatan memantul dan semakin menghilang di permukaan air <em>lagoon</em> yang tenang. Ketika semua kuterima dengan gembira, aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang mulai menyelimuti diriku.</p>
<p><strong>SEHARI <em>UPLOADING</em></strong></p>
<p>Kamis, tanggal 9 Juli 2009, di tengah-tengah hujan badai, kapal mulai menarik tali dan jangkar dari pulau karang Fanalei pada pk. 04.30. Sejak pk. 03.00 aku sudah bangun dan bergegas berdoa rosario memohon keselamatan perjalanan hari itu lewat doa-doa dari Bunda Maria dari Sorga. Para penumpang yang semula tertidur lelap di lantai kapal terkejut dan bangun dalam kegugupan. Kami semua bergerak ke bagian tengah kapal agar tidak basah terkena hujan.</p>
<p>Pagi itu, kapal memulai proses <em>uploading</em> dari kampung Malo’u. Kampung terakhir yang kami datangi kemarin menjadi kampung pertama untuk <em>uploading</em>. Proses <em>uploading</em> cukup berat karena cuaca yang tidak menentu. Langit amat hitam oleh mendung tebal. Hujan juga turun tidak menentu, kadang amat deras, kadang agak mereda. Situasi itu masih diperburuk oleh mesin motor boat yang tidak bekerja dengan baik sehingga untuk proses <em>uploading</em> dari pantai ke kapal, <em>crew</em> kapal menggunakan dayung (di semua <em>port</em> di Maramasike tidak ada dermaga yang membuat kapal bisa merapat ke pantai).</p>
<p>Beberapa penumpang terdengar menggerutu oleh cara kerja <em>crew </em>kapal pada hari itu. Nampaknya hampir semua penumpang tahu, bahwa malam sebelumnya mereka mabuk-mabukan di lantai dasar kapal. Akibatnya, proses <em>uploading </em>hari itu berjalan amat lamban karena para pekerja itu kelihatan mengantuk dan kelelahan akibat kurang istirahat. Di salah satu <em>port</em>, proses <em>uploading</em> bahkan bisa memakan waktu sampai 5 jam. Ini berarti hampir setengah hari kami terkatung-katung di tengah laut hanya untuk menunggu kapal mengisi muatan. Beberapa penumpang bahkan mengangkat sendiri karung-karung berisi beras atau kelapa dari motor boat ke atas kapal. Beberapa penumpang di kapal membantu mengangkat karung-karung itu sambil meneriaki <em>crew </em>kapal agar bekerja lebih aktif dan giat agar kapal bisa segera berangkat.</p>
<p>Pada pk. 19.00, kapal tiba kembali di pelabuhan Afio; pelabuhan yang kami singgahi untuk pertama kalinya pada dini hari sebelumnya. Di Afio, kapal tidak merapat ke pantai karena sudah terlalu sarat oleh penumpang. Padahal, di dermaga, ada begitu banyak orang yang menunggu untuk diangkut. Beberapa orang terdengar marah dan berteriak-teriak sehingga situasi amat krusial dan riskan akan keributan atau kekacauan antar penumpang. Untungnya, tidak ada kejadian yang tidak diharapkan.</p>
<p><strong>PERJALANAN KE HONIARA</strong></p>
<p>Kapal meninggalkan pelabuhan Afio pada pk. 19.50 pada hari Kamis, 9 Juli 2009. Setelah sekitar 15 menit kapal bergerak, kapal berhenti. Kapal berhenti dan terapung-apung di atas air sekitar 2 jam. Didapat berita bahwa cuaca, ombak, dan angin di tengah-tengah laut tidak menentu. Kapten kapal menunggu kepastian keselamatan perjalanan. Bahkan, amat mungkin kapal bergerak balik lagi ke Afio apabila memang perjalanan laut diperkirakan terlalu berbahaya.</p>
<p>Berita ini memang tidak mengenakkan semua penumpang, termasuk diriku. Aku sudah membayangkan situasi terburuk perjalanan laut yang penuh ombak, basah, dan tidak nyaman sama sekali. Tapi aku kali ini jauh lebih siap untuk menghadapi dan menerima situasi semacam itu. Aku bahkan sudah menemukan posisi duduk yang bisa “menyelamatkanku” dari mabuk laut.</p>
<p>Setelah selama dua jam kapal terapung-apung tidak menentu, kapten kapal memutuskan untuk berangkat ke Honiara. Nampaknya ada kepastian keselamatan perjalanan laut. Dengan beberapa doa Bapa Kami dan Salam Maria, aku mengikuti gerak kapal dalam riak-riak ombak tanpa henti. Di luar dugaan semua orang, laut malam itu sangat tenang. Terang bulan bersinar amat terang, memantulkan sinarnya ke permukaan air laut yang tenang. Kapal yang sarat penumpang itu bergerak pelan menuju Honiara. Di sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya mensyukuri perjalanan ini. Doa-doaku yang tak kunjung putus mengiringi perjalanan dan rasa syukur ini.</p>
<p>Pada pk. 06.10 hari Jumat tanggal 10 Juli 2009, kapal merapat di pelabuhan Honiara. Honiara masih berselimutkan pagi hari yang sejuk dan cerah. Hatiku meluap oleh rasa syukur akan anugerah Yang Ilahi oleh pengalaman perjalanan ini. Ketika ketidakpastian berakhir dengan keselamatan, kegembiraan dan rasa syukur ini terasa meluap dan berlimpah dari dalam hati, bahwa Yang Ilahi mendengarkan doa-doa dan menjaga keselamatan perjalanan.</p>
<p>Syukur padaMu dan pujian bagiMu, Yang ada di Sorga, di langit, dan di bumi.</p>
<p>Pujian dan kemuliaan bagiMu.</p>
<p>Amin.</p>
<p><em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=100&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/11/%e2%80%9ciman-yang-menjaga-dalam-ketidakpastian%e2%80%9d-kisah-perjalanan-laut-pertamaku-ke-honiara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CLEMENT</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/10/clement/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/10/clement/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 22:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga/Family]]></category>
		<category><![CDATA[Bertumbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Home]]></category>
		<category><![CDATA[kanak-kanak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>
		<category><![CDATA[Rasa Aman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[“Selama aku di sini, kamu juga tinggal di sini, makan dan tidur di sini. Jangan khawatir! Oke?” Clement yang saat itu sedang duduk sambil makan di hadapanku hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Mulutnya sedang penuh oleh nasi. Dia lalu tersenyum menunjukkan giginya yang patah dan berlubang di sana-sini. Aku sejenak termenung mengamati tubuh kerempeng Clement di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=97&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Selama aku di sini, kamu juga tinggal di sini, makan dan tidur di sini. Jangan khawatir! Oke?”</p>
<p>Clement yang saat itu sedang duduk sambil makan di hadapanku hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Mulutnya sedang penuh oleh nasi. Dia lalu tersenyum menunjukkan giginya yang patah dan berlubang di sana-sini.<span id="more-97"></span></p>
<p>Aku sejenak termenung mengamati tubuh kerempeng Clement di hadapanku. Aku jatuh oleh rasa iba yang tak terkira. Dalam usia sekitar 11 – 12 tahun, Clement hidup seperti tak punya rumah. Dia sebenarnya punya rumah. Tapi Clement tidak suka tinggal di rumah. Dia selalu berkeliaran ke sana ke mari tak menentu. Aku mencoba menghindari untuk bertanya, “Mengapa?” Clement tampaknya tak terlalu suka ditanyai soal ayah atau ibunya. Dengan gaya ala anak-anak, dia selalu menjawab ketus bila ditanyai orang soal mengapa dia tidak betah di rumah. “Malas!”, begitu jawabnya.</p>
<p>Clement bukan hanya tidak suka tinggal di rumah. Dia juga tidak betah di sekolah. Cukup sering dia bolos sekolah. Dia menghilang entah ke mana. Karena mau menghindari pertanyaan gurunya mengapa dia kerapkali bolos sekolah, akhirnya Clement malah tidak mau bersekolah sama sekali.</p>
<p>Di dekat tempatku tinggal di Tulagi, ada keluarga paman dan bibi Clement serta beberapa sanak familinya. Setiap kali aku bertanya soal Clement, ada nada jawaban yang selalu sama: “Dia anak nakal. Sudahlah, jangan diurusi! Percuma!” Bahkan beberapa orang nampak segan memberikan jawaban. Setelah beberapa kali mendapatkan tanggapan yang sama, aku akhirnya memilih berhenti bertanya soal Clement pada sanak familinya. Bagiku, pelbagai jawaban itu sudah cukup menunjukkan bahwa sanak familinya tidak mau peduli lagi pada Clement dan menganggapnya sebagai anak nakal.</p>
<p>Oleh karena itu, pada kesempatan tinggal selama dua minggu di Tulagi, aku memutuskan untuk “mengadopsi” Clement. Kuminta dia tinggal bersamaku. Beberapa anak muda yang juga tinggal bersamaku kuberi sedikit keterangan tentang maksudku menyuruh Clement tinggal bersama kami. Selama tinggal bersama-sama dengan kami, Clement sebenarnya cukup patuh. Pada hari-hari pertama, kusuruh dia mandi sehari dua kali, bahkan kadang-kadang agak kupaksa bila dia memang segan untuk mandi. Clement memang tidak terbiasa mandi berhari-hari sehingga badannya memang sangat bau. Dia juga kuminta mengganti baju sehabis mandi. Dia bilang tidak punya baju, maka kuberi dia beberapa helai kaos. Esok harinya, salah satu kaos itu kutemukan di kolong tempat tidur.</p>
<p>Ketika kutanya mengapa kaos itu ada di sana, dia bilang: “Panas. Malas pakai baju.”</p>
<p>“Okelah. Tapi yang penting kamu mandi”, jawabku.</p>
<p>Pernah selama dua hari Clement tidak ada bersama kami. Dia pergi entah ke mana. Setelah dua hari dia muncul lagi. Tubuhnya sudah bau lagi seperti semula. Tubuh kerempeng itu tidak berpakaian lagi, hitam legam, dan kotor lagi.</p>
<p>Kutanya dia dalam bahasa Pijin Solomon: “<em>Hai boy, yu go lo wea</em>?” (Hai bocah, ke mana saja kamu pergi?). Clement tidak menjawab. Hanya tertawa kanak-kanak.</p>
<p><em>“Hai, mi askem yu ya! </em><em>Yu go lo wea?” </em>(Aku sedang bertanya pada kamu ya. Ke mana saja kamu pergi?)</p>
<p><em>“Mi plei plei”</em>, jawab Clement seenaknya.</p>
<p><em>“Ai, yu plei plei olowe. </em><em>Yu mas stap lo hia, lanem staka samting ya. Yu go lo swim nao. Kuiktaem”</em> (Hah, kamu bermain-main terus-terusan. Kamu mesti tinggal di sini dan belajar banyak hal. Sekarang kamu mandi sana, cepat).</p>
<p>Mendengar nada hardikanku yang meninggi, Clement segera mengambil salah satu handuk di sampiran lalu menuju ke kamar mandi. Aku tahu, sebenarnya dia malas mandi. Tapi karena ada rasa takut padaku, dia toh berangkat mandi juga.</p>
<p>Siang itu sengaja kusempatkan duduk mengobrol dengan Clement di beranda depan rumah. Kebetulan anak-anak muda lainnya sedang tidak ada di rumah. Semua sedang pergi ke luar rumah dengan urusan masing-masing. Sambil iseng namun berhati-hati, aku mulai bertanya-tanya pada Clement tentang sanak saudaranya. Di rumahnya, Clement hidup dengan ayah dan ibu tirinya. Ibu kandungnya tinggal jauh di pulau Malaita. Dia tidak pernah menjenguk Clement. Clement tidak betah tinggal di rumah dengan ayah kandung dan ibu tirinya (wanita yang dinikahi ayahnya setelah meninggalkan ibu kandungnya). Ayahnya amat keras dan sering memukulnya bila Clement melakukan kesalahan. Ibu tirinya juga sering mengata-ngatainya. Clement juga tidak mau bermain dengan saudara-saudara tirinya. Itu semua membuat Clement memilih lari dari rumah dan berkeliaran sepanjang hari. Ke mana saja, asalkan tidak di rumah.</p>
<p>Mendengar ceritera dari mulut Clement, aku menjadi sangat iba. Dari dalam hatiku, aku bertekad untuk memberi perhatian lebih padanya. Clement menjadi “anak nakal” dan tidak mau mendengarkan nasehat bibi, paman, dan sanak familinya, karena ia memang mau menunjukkan eksistensinya. Ada perasaan “ditolak” ketika dia berhadapan dengan perlakuan ayah kandung dan ibu tirinya (bahkan mungkin juga oleh sikap ibu kandungnya yang tidak pernah mengunjunginya). Perlakuan demi perlakuan dirasakan Clement sebagai penolakan atas dirinya. Itulah yang membuatnya akhirnya “kehilangan rumah” yang membuatnya merasa <em>at home </em>dan “pulang”. Kenakalan Clement sesungguhnya adalah caranya untuk meminta perhatian dari orang dewasa. Dan ketika perhatian itu tidak dia dapatkan, semakin Clement menunjukkan bahwa dia memang “nakal”. Itulah setidaknya yang bisa kumaknai dari ceritera Clement siang itu.</p>
<p>Padahal, selama dia tinggal bersama kami, Clement masih mau bila kusuruh mencuci piring, membersihkan rumah, dan mandi sehari dua kali. Setidaknya, itu menjadi tanda bahwa Clement masih mau dan bisa dididik.</p>
<p>Ketika hari tiba bagiku untuk kembali ke Honiara, hatiku terasa pedih. Bukan oleh romantisme perpisahan dengan Clement, tapi oleh keprihatinanku pada Clement. Kami akan meninggalkan Clement selama sembilan bulan sebelum kami kembali lagi ke Tulagi. Selama waktu itu, aku berkeyakinan tidak ada orang dewasa yang mau mendampingi dan mendidik Clement. Aku punya firasat buruk. Ada kekhawatiran luar biasa dalam diriku terhadap “nasib” Clement.</p>
<p>Kini, aku kembali lagi ke Tulagi setelah masa sembilan bulan itu berlalu, dan kekhawatiranku sembilan bulan yang lalu cukup beralasan. Kini aku tidak bisa lagi “menemukan” Clement. Menurut orang-orang kampung, Clement sekarang adalah “juara termuda” di antara para pemabuk, penjudi, dan perokok.  Dia tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman sepermainan. Dia selalu bergaul dengan anak-anak muda pengangguran yang memang cukup banyak di situ. Dia berada di bawah pengaruh kebiasaan buruk masyarakat setempat.</p>
<p>Hatiku kembali jatuh oleh rasa sedih dan keprihatinan yang luar biasa. Aku seperti kehilangan barang berharga yang semula kugenggam erat-erat, tapi kemudian lepas karena hanyut dibawa arus air deras. Dan hilang begitu saja. Apa boleh buat.</p>
<p>Clement bagiku adalah korban. Dia adalah korban dari situasi keluarga yang tidak bahagia dan <em>broken home</em>. Dia adalah korban dari masyarakat yang tidak sehat oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mengerak. Dia adalah korban dari penghakiman orang dewasa yang tidak memahami dunia kanak-kanak. Aku semakin menyadari betapa penting dan mendalamnya makna keluarga yang memberikan rasa <em>at home</em> dan yang memungkinkan anggota-anggotanya untuk “pulang”. Keluarga yang <em>home</em> akan menumbuhkan perasaan aman bagi anggota-anggotanya untuk tinggal di dalamnya dan mendapatkan kasih yang secukupnya untuk bertumbuh.</p>
<p>Clement kini benar-benar pergi mencari “<em>home</em>”, dengan apa atau dengan siapa dia menemukan makna untuk “pulang”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=97&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/10/clement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KESEDERHANAAN ANAK – ANAK DAN ORANG KAMPUNG</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/05/15/kesederhanaan-anak-%e2%80%93-anak-dan-orang-kampung/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/05/15/kesederhanaan-anak-%e2%80%93-anak-dan-orang-kampung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 03:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sprituality]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[semak]]></category>
		<category><![CDATA[Tulagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu aku sedang duduk – duduk di atas rerumputan di samping rumah pastoran di Takwa Parish. Seorang anak mendatangiku. Dia lalu duduk diam – diam di dekatku. Tanpa kata. Dari dalam benakku, timbul ide kreatif. Kuminta dia memanjat punggungku, berdiri di pundakku, lalu melompat ke depan. Sekali dia sukses melakukannya, dia kepingin lagi melakukannya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=94&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu aku sedang duduk – duduk di atas rerumputan di samping rumah pastoran di Takwa Parish. Seorang anak mendatangiku. Dia lalu duduk diam – diam di dekatku. Tanpa kata. Dari dalam benakku, timbul ide kreatif. Kuminta dia memanjat punggungku, berdiri di pundakku, lalu melompat ke depan. Sekali dia sukses melakukannya, dia kepingin lagi melakukannya. Pada kali ke tiga, ada banyak anak muncul dan berdatangan dari balik semak – semak, lalu berebut naik ke pundakku. Oh, rupanya mereka sudah sejak tadi menguntitku dan mencoba mendekatiku. Sampai cukup lama mereka bergantian bermain “memanjat dan melompat”.<span id="more-94"></span></p>
<p>Pada kesempatan lain, di Tulagi, aku memperkenalkan kepada anak – anak kampung permainan suara yang diproduksi oleh kombinasi antara tepuk tangan dan suara mulut. Dari situ, mereka bisa membentuk semacam grup yang menghasilkan bunyi konser yang indah. Di malam hari, penerangan lampu minyak menginspirasiku untuk memperkenalkan permainan bentuk – bentuk binatang yang dihasilkan oleh bayang – bayang dari kedua tangan. Itu semua adalah permainan masa kecilku. Permainan yang murah dan menggunakan apa saja yang ada di lingkungan sekitar kita.</p>
<p>Bagiku, rasanya indah turut merasakan kegembiraan anak – anak kampung. Kegembiraan mereka menjadi dambaan bagi setiap anak yang dari sendirinya mesti mengalami masa bermain. Mereka penuh dengan imajinasi sehingga apa pun bisa menjadi bahan permainan mereka. Segala permainan baru akan menarik perhatian. Mereka tidak terikat oleh fasilitas – fasilitas tertentu karena apa pun yang berada di alam bisa menjadi bahan permainan. Dunia mereka adalah dunia bebas yang menggembirakan untuk bermain. Dunia kampung, lebih dari itu, masih memberi kemungkinan bagi mereka untuk bersosialisasi dengan teman – teman sepermainan. Inilah kesederhanaan dunia anak – anak kampung di Solomon.</p>
<p>Bagiku menyenangkan berada dalam kesederhanaan dunia kampung. Sejauh pengalamanku di Solomon, orang – orang kampung tidak pernah bertanya tentang gelar akademis, karier, atau jabatan tertentu. Hal yang mengesankanku setiap kali aku bertemu seseorang di Tulagi, misalnya, adalah pertanyaan: “Yu hao? Yu olrait?” (Bagaimana keadaanmu? Baik – baikkah?). Mereka tidak bertanya apakah hari itu aku sukses atau tidak dengan rencana – rencanaku. Tapi, mereka bertanya tentang keadaanku, gembira atau sedih, sehat atau sakit. Inilah pertanyaan yang diajukan sebelum terjadi percakapan – percakapan atau pembicaraan berikutnya. Yang sejauh kupahami, ini bukan pertanyaan sekedar basa – basi, melainkan lebih dari itu yaitu sebagai tanda perhatian dan persahabatan. Aku masih ingat, beberapa orang dari beberapa kampung yang kukunjungi merasa gembira dan bangga karena aku, yang notabene adalah orang asing, mau duduk dan mengobrol dengan mereka, berbagi ceritera tentang pelbagai hal. Sesederhana itukah? Ya, memang sesederhana itu. Sebab, dunia kampung adalah dunia yang penuh dengan kesederhanaan.</p>
<p>Sesungguhnya, secara fisik, amatlah gampang melihat kesederhanaan orang kampung di Solomon. Dari cara berpakaian, mereka tidak pernah berpikir soal penampilan yang bagus. Rata – rata orang kampung di Solomon memiliki sedikit sekali pakaian yang bagus. Dalam keseharian, mereka berpakaian seadanya. Bahkan satu baju bisa dipakai beberapa hari untuk kegiatan apa saja, termasuk untuk tidur. Dari cara hidup, orang kampung amatlah bersahaja. Di pagi hari, mereka pergi ke ladang. Siang pulang. Lalu bertukang atau berburu ke hutan. Bagi yang tinggal di tepi pantai, mereka pergi mencari ikan di laut pada malam hari. Dalam rutinitas hidup yang sederhana semacam itu, orang kampung masih amat menjunjung tinggi tradisi yang menghormati orang tua dan sanak saudara laki – laki, yang menghargai kebersamaan dan solidaritas, dan yang menjaga keutuhan keluarga (di kampung – kampung di Solomon, kasus perceraian hampir tidak ada). Di kampung – kampung di Solomon, sanak keluarga biasa saling merawat atau mengadopsi anak – anak sanak famili mereka. Keluarga yang lebih mampu secara ekonomis otomatis akan membantu sanak keluarga yang masih miskin sebagai ungkapan rasa solidaritas.</p>
<p>Dalam kesederhanaan dunia kampung di Solomon, aku belajar bahwa kegembiraan hidup bukanlah didasarkan pada apa – apa yang telah dimiliki dan dicapai oleh seseorang (pada hal – hal di luar dirinya) melainkan pada bagaimana dia melewatkan waktu – waktu dalam hidupnya untuk menemukan dirinya dalam kebersamaan dan solidaritas bersama orang lain. Yang dijunjung tinggi adalah nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepekaan. Inilah kekayaan nilai yang kupelajari yang terkandung dalam kesederhanan anak – anak dan orang kampung di Solomon.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=94&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/05/15/kesederhanaan-anak-%e2%80%93-anak-dan-orang-kampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AMBANG EKSISTENSIKU: BERFILSAFAT DARI TENGAH LAUT</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/04/18/ambang-eksistensiku-berfilsafat-dari-tengah-laut/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/04/18/ambang-eksistensiku-berfilsafat-dari-tengah-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 00:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy: Study and Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Ombak]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu]]></category>
		<category><![CDATA[Rasio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Selama tiga puluh menit aku berjuang dengan rasa takut. Setiap kali ombak bergulung mendatangi perahu motor yang kami tumpangi, hatiku berdebar oleh rasa takut. Ketika motoris menambah kekuatan motor berkekuatan 25 HP (Horse Power) untuk mendorong perahu agar bisa melewati puncak ombak, aku berdoa dan berharap semoga mesin itu tidak bermasalah. Bisa kubayangkan, bila motor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=91&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama tiga puluh menit aku berjuang dengan rasa takut. Setiap kali ombak bergulung mendatangi perahu motor yang kami tumpangi, hatiku berdebar oleh rasa takut. Ketika motoris menambah kekuatan motor berkekuatan 25 HP (Horse Power) untuk mendorong perahu agar bisa melewati puncak ombak, aku berdoa dan berharap semoga mesin itu tidak bermasalah. <span id="more-91"></span>Bisa kubayangkan, bila motor itu mati atau mogok mendadak, dalam sekejap perahu bisa digulung ombak dan kami semua terlempar ke laut. Perutku terasa mual dan pantatku begitu panas tiap kali perahu motor terbanting ke lembah ombak setelah melewati puncaknya. Selama tiga puluh menit itu aku berjuang dengan rasa takut. Aku memegang erat – erat tali perahu. Bila sampai terjadi kecelakaan, kupikir, aku masih terikat pada perahu yang mengapung dan tidak sampai tenggelam. Aku terus berpikir mencari cara menyelamatkan diri seandainya terjadi kecelakaan dan kami semua tenggelam ke laut.  Masa tiga puluh menit rasa takut berhasil kulewati ketika aku mulai bisa berpasrah dan menerima situasi perjalanan laut yang tidak nyaman. Aku mulai melihat air laut bukan sebagai musuh yang mengamuk dan mau melalapku. Aku mulai melihatnya sebagai alam yang memang memiliki hukumnya sendiri. Siapa pun yang berada di dalamnya mesti mengikuti irama hukum alam, bukan melawannya. Dari situlah, aku mulai bisa merasakan diriku sebagai bagian dari deru angin dan deburan ombak yang tanpa henti bergulung di sekelilingku. Pelan – pelan aku menundukkan menara gading kekuatan rasio manusiawiku dan kekuatan kalkulasinya ke dalam desain hukum alam yang sekarang amat “powerful”.</p>
<p>Di belakang kami, kepulauan Nggela yang kami tinggalkan sudah jauh dan berwarna biru. Sementara itu, pulau Guadalcanal yang kami tuju juga masih sangat jauh.  Perahu yang kami tumpangi saat ini sudah berada di tengah – tengah laut lepas yang sedang berdebum oleh gulungan ombak dan angin tak henti – hentinya. Motoris bersama seorang kawan di belakang sedang berjuang mengendalikan motor perahu mencari sela – sela ombak untuk dilewati dengan aman, sementara seorang kawan lagi berdiri di depan mengamati jalur bebas sampah yang bisa di lalui oleh perahu (kebetulan di laut lepas saat itu ada banyak kayu dan sampah yang mengapung bertebaran di laut lepas dan siap mengganggu perjalanan kami; mungkin kayu – kayu itu jatuh dari kapal “logging”).  Kali ini aku merasa lebih tenang menghadapi kemungkinan apa pun yang bisa terjadi, termasuk kemungkinan kecelakaan di laut lepas. Kupikir, andaikan aku tenggelam dan mati di laut, aku siap “mempersembahkan” diriku (dagingku) untuk dimakan oleh makhluk hidup apa pun di dasar laut. Aku akan menjadi bagian dari plankton di dasar laut, dalam bagian – bagian alam bersama dengan orang – orang yang pernah mati dalam kecelakaan laut. Adakah yang salah dengan pikiran ini? “Taboo” – kah aku berpikir tentang hal ini? Kurasa tidak. Sebab, siapakah yang berani memastikan dirinya akan mendarat di pantai dengan aman persis pada saat dia sedang berada dalam batas antara hidup dan mati di tengah hantaman ombak laut lepas persis seperti situasi kami sekarang ini?  Kesiapanku untuk “kembali ke alam” menyadarkanku akan ketegangan eksistensial tak kunjung henti antara kekuatan kalkulasi rasio manusia dengan hukum – hukum matematisnya dan kekuatan desain alam yang dalam banyak sisi belum tuntas terjangkau oleh kalkulasi matematis rasio manusia. Studi, riset, dan perkembangan hidup manusia berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah mengarahkan manusia pada kepercayaan diri dalam mengolah dan menguasai alam. Perkembangan itu toh juga tidak luput dari dampak negatif berupa ambisi manusia mengeksploitasi alam sehabis – habisnya. Di sisi lain, berhadapan dengan kekuatan alam yang “powerful” seperti yang kualami saat ini, aku tidak bisa mengelak dari keputusan untuk menundukkan kekuatan kalkulasi rasio manusiawiku pada Rasio Alam yang memiliki standard hukum dan desainnya sendiri. Aku mesti menyeimbangkan diriku dengan hukum – hukumnya. Aku kini tunduk padanya.</p>
<p>Adakah ini merupakan saat terakhir dari sejarah kekuatan kalkulasi rasio manusiawiku? Jawabannya sangat kondisional. Bila saat itu aku mati tenggelam dalam kecelakaan laut, jawabannya adalah ya. Namun, karena sampai saat ini aku masih hidup dan mampu mengisahkan refleksi perjalanan yang menantang ini, jawabannya adalah tidak. Artinya, hidup yang kumiliki saat ini berarti bahwa aku masih berkesempatan mengambil bagian dalam sejarah pergumulan antara rasioku dan Rasio Alam. Bahkan, arti semacam itu pun hanya dimungkinkan setelah kami mendarat di pantai dengan aman setelah selama hampir dua jam berhadapan dengan gulungan ombak laut yang ganas.</p>
<p>Apa boleh buat! Arti hidup itu pun kini menjadi kondisional juga, tergantung pada hidup itu sendiri. Ke – TIADA – an atau ke – ADA – an hidup membuka kemungkinan interpretasi baru.</p>
<p>Puff!!! Aku kini terkapar kelelahan di tepi pantai.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=91&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/04/18/ambang-eksistensiku-berfilsafat-dari-tengah-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tarcisio Fiumana</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/12/tarcisio-fiumana/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/12/tarcisio-fiumana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 00:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sprituality]]></category>
		<category><![CDATA[Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jemaat]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketekunan]]></category>
		<category><![CDATA[Luar biasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Tarcisio Fiumana. Aku biasa memanggilnya Tarcisio. Orang kampung memanggilnya Fiumana. Bagiku, kedua nama itu sama – sama indah terdengar di telinga. Secara fisik, Tarcisio tidak kelihatan menarik sama sekali. Orangnya pendek dan bongkok, saking bongkoknya sampai – sampai tengkuknya kadang – kadang kelihatan lebih tinggi daripada kepalanya. Ke mana – mana Tarcisio tidak mengenakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=86&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-89" title="tarsisius-fiumana" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/tarsisius-fiumana.jpg?w=66&#038;h=152" alt="tarsisius-fiumana" width="66" height="152" />Namanya Tarcisio Fiumana. Aku biasa memanggilnya Tarcisio. Orang kampung memanggilnya Fiumana. Bagiku, kedua nama itu sama – sama indah terdengar di telinga. Secara fisik, Tarcisio tidak kelihatan menarik sama sekali. Orangnya pendek dan bongkok, saking bongkoknya sampai – sampai tengkuknya kadang – kadang kelihatan lebih tinggi daripada kepalanya.  <span id="more-86"></span></p>
<p>Ke mana – mana Tarcisio tidak mengenakan alas kaki sehingga kulit kakinya pecah – pecah. Tubuhnya nampak hitam legam. Tarcisio memang nampak terbiasa bekerja keras sejak masih muda. Otot – ototnya nampak kekar di sana – sini. Padahal usianya saat ini sudah sekitar 65 – 70 tahun. Di usianya yang tidak muda lagi, Tarcisio masih kuat berjalan kaki. Kami pernah bersama – sama berjalan kaki mengelilingi pulau Tulagi selama 1,5 jam. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang becek dan berduri, menembus ilalang di sepanjang tepi pantai hutan bakau. Tarcisio tidak menampakkan kelelahan sedikit pun, sementara itu aku terengah – engah di sepanjang jalan dan terpaksa beristirahat beberapa kali.</p>
<p>Tarcisio memang betul – betul tipe orang kampung Solomon yang penuh dengan kesederhanaan. Di sepanjang hidupnya, dia jarang sekali pergi ke luar pulau Tulagi. Hidupnya sehari – hari hanya di sekitar rumahnya, di ladang, atau di Gereja. Seperti kebanyakan orang kampung di Solomon, Tarcisio tidak berpendidikan tinggi. Cukup tingkat sekolah dasar untuk bisa membaca dan menulis. Di kampungnya, cukuplah seorang pemuda tahu bekerja di ladang dan menghidupi anak – isteri.   Hidupnya yang sederhana dan tidak banyak cakap membuat Tarcisio tidak menonjol dalam pergaulan di kampung maupun di kalangan umat Gereja Katolik. Dia selalu diam dalam pertemuan – pertemuan jemaat. Meskipun demikian, dia selalu setia hadir dalam aktivitas Gereja. Bila dalam suatu acara umat ditanyakan apa pendapatnya, selalu dijawabnya: “Mi no save!” (Pidgin: Aku tidak tahu!), lalu mengembanglah senyumnya yang khas. Kesederhanaan semacam ini membuat Tarcisio jauh dari bahan pembicaraan orang. Nampaknya, dia tidak terlintas dalam benak kebanyakan orang karena hidupnya yang teramat biasa itu.</p>
<p>Tapi, bagiku, hidup Tarcisio nampak luar biasa justru karena gaya hidupnya yang amat biasa itu. Aku masih ingat, adalah Tarcisio yang rajin mengunjungiku sewaktu aku jatuh sakit di Tulagi pada pertengahan tahun 2008 yang lalu. Tarcisio jugalah orang pertama yang selalu datang dan membersihkan Gereja sebelum kegiatan – kegiatan umat dimulai. Pada hari – hari cerah, Tarcisio jugalah yang mendahului orang – orang kampung menyapu halaman rumahnya di pagi hari, lalu bekerja di ladang dan membersihkan lingkungan dari ilalang liar. Parang di tangan Tarcisio selalu siap membabat ilalang liar di mana – mana. Pun, Tarcisio-lah yang memukul bel Gereja sehari tiga kali untuk berdoa Angelus, yang membuatnya nampak seperti jam berjalan (dan memang, ada jam tangan yang selalu setia melingkari pergelangannya). Padahal, orang Solomon secara umum dikenal sebagai timeless people, tidak pernah tepat waktu, dan sulit menepati janji.  Bertahun – tahun Tarcisio menjalani hidupnya yang teramat biasa itu dengan kesetiaan dan ketekunan yang luar biasa.</p>
<p>Ketika Tarcisio pulang ke kampung halamannya di Pulau Malaita, banyak orang di Pulau Tulagi baru sadar bahwa Tarcisio berperan besar bagi lingkungan dan jemaatnya, sebab, sepeninggalnya, lingkungan rumahnya menjadi sangat kotor, gereja nampak amat kotor, dekil, dan berdebu, dengan daun – daun kering memenuhi lantai Gereja di mana – mana. Tidak ada orang yang memukul bel Gereja. Boleh dikata, Gereja nampak kosong dan kotor seperti kandang kambing ketika tidak ada Tarcisio di Tulagi. Kita semua amat membutuhkan “Tarcisio – Tarcisio” dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja, yang hadir dan mengubah dunia di sekelilingnya bukan dengan kata – kata belaka, tapi dengan ketekunan dan kesetiaan untuk melakukan pekerjaan – pekerjaan dalam hal – hal yang biasa namun secara luar biasa. Tarcisio dari Tulagi telah memberi teladan kesederhanaan yang mengagumkan.</p>
<p>Tulagi,</p>
<p>Minggu ke dua Maret 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=86&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/12/tarcisio-fiumana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/tarsisius-fiumana.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tarsisius-fiumana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SATU JAM DI ATAS SAMPAN</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/09/satu-jam-di-atas-sampan/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/09/satu-jam-di-atas-sampan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 03:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turne Misi (My Mission Journey)]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Dayung]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis]]></category>
		<category><![CDATA[Kesunyian]]></category>
		<category><![CDATA[Lagoon]]></category>
		<category><![CDATA[Sampan]]></category>
		<category><![CDATA[Samudera]]></category>
		<category><![CDATA[Tuli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Kesunyian yang datang tiba – tiba terasa mengejutkan. Telingaku serasa tuli dengan tiba – tiba. Rasanya aneh sekali, seperti disergap oleh kesenyapan. Aku saat ini sedang berada di atas sampan kecil di tengah – tengah lagoon di utara Pulau Malaita. Air lagoon yang tidak berombak menambah suasana sunyi, tiada terdengar deru angin maupun ombak laut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=78&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN"> Kesunyian yang </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"><img class="size-full wp-image-79 alignleft" title="takwayasi" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/takwayasi.jpg?w=191&#038;h=142" alt="takwayasi" width="191" height="142" /></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IN">datang tiba – tiba </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">terasa mengejutkan. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT">Telingaku serasa tuli dengan tiba – tiba. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT">Rasanya aneh sekali, seperti disergap oleh kesenyapan. Aku saat ini sedang berada di atas sampan kecil di tengah – tengah <em>lagoon </em>di</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> utara Pulau Malaita. <span id="more-78"></span>Air <a name="lagoon"></a><em>lagoon </em>yang tidak berombak menambah suasana sunyi, tiada terdengar deru angin maupun ombak laut. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Yang terdengar hanyalah “kecipak” bunyi air yang disapu oleh dayung sampan yang kutumpangi. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT">Ada dua gadis kecil sedang mendayung sampan di muka dan di belakangku. Sementara itu, aku duduk di tengah dan sesekali aku sibuk menguras air yang masuk sampan dengan gayung kecil. Sampan itu bocor di tengah. Ada lubang sebesar jari telunjuk tepat di dasar sampan di tengah, di dekat silang kakiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> Aku masih sedang beradaptasi dengan telingaku yang tiba – tiba terasa tuli. Aku sadar, itu hanyalah perasaanku saja. Aku baru menyadari bahwa ini adalah efek dari perubahan lingkungan yang drastis. Dalam kehidupan sehari – hari, telinga kita sudah amat terbiasa dengan pelbagai bunyi. Kita mendengar deru kendaraan lalu – lintas yang lalu – lalang di depan rumah kita. Kita mendengar musik, orang berbicara, orang bekerja, atau bunyi binatang – binatang di sekitar kita. Bahkan di tengah malam pun, telinga kita tak juga “beristirahat” ketika kita mendengar bunyi dengung arus listrik yang mengalir di dalam lampu neon di kamar kita, atau dengung almari es (kulkas) di dapur. Di laut, sebaliknya, sejauh laut itu tenang, bunyi – bunyi sirna dari gendang telinga kita. Hanya sesekali kita sempat mendengar desah napas kita sendiri. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Sesekali pula kita masih bisa mendengar bunyi air tersibak oleh laju sampan. Selebihnya hanyalah kesunyian laut yang memukau. Makanya, aku sempat tercengang oleh perasaan tuli ketika kesenyapan <em>lagoon </em>seakan &#8211; akan<em> </em>menyergap diriku dengan tiba – tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"> Dalam kesenyapan itu, aku tiba – tiba meluap dalam perasaan akan ketiadaan (<em>nothingness</em>). </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT">Betapa tidak. Aku menyadari eksistensiku sebagai manusia di tengah – tengah samudera Pasifik yang luas. Aku sadar, aku masih hidup dan bernapas. Namun, aku hanyalah titik kecil di tengah kedahsyatan samudera (ini dalam arti yang sesungguhnya, sebab aku memang sedang berada di tengah – tengah samudera pasifik yang amat luas merentang dari ujung utara sampai ke ujung selatan bumi). Aku merasa kagum sekaligus takut; takjub sekaligus bergidik. Bagaimana pun, aku tidak bisa berenang andai saja ada rintangan di laut. <strong>Aku merasa sedang berada di antara ada dan tiada</strong>. “Nasibku” saat ini berada di tangan dua gadis kecil yang telah menjemputku dari rumah pastoran. Merekalah yang sedang mendayung sampan dan menguasai situasi. Mereka tahu berenang dan sudah terbiasa hidup di pulau karang di tengah – tengah lautan. Dalam pikiran – pikiran yang terus melintas dalam benakku, aku masih saja menguras air yang terus masuk sampan lewat lubang di dasarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT">Aku berdoa dan berharap agar kami cepat sampai di pulau karang yang menjadi tujuan kami. Satu jam di atas sampan waktu itu telah banyak mengajariku tentang makna terdalam eksistensi manusia yang layak untuk disyukuri sebagai “pemberian”, rahmat, tanpa ada satu manusia pun yang berhak untuk meminta atau pun mengambilnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Menjelang Natal 2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Lau Lagoon</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">, <em>North Malaita</em><em> Region</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Solomon Islands</span></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=78&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/09/satu-jam-di-atas-sampan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/takwayasi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">takwayasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ONGOING FORMATION SAMBIL MENUNGGU JAGUNG</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/ongoing-formation-sambil-menunggu-jagung/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/ongoing-formation-sambil-menunggu-jagung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 03:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sprituality]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Jagung]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[Rumput]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Aku sebetulnya sama sekali tidak berlatar belakang petani. Tak ada seorang petani pun dalam silsilah keluargaku. Makanya, aku sendiri heran bahwa pada akhirnya aku bisa bekerja sambilan sebagai petani – ladang di samping tugas utamaku sebagai pengajar di seminari. Semua bermula dari tanah kosong penuh ilalang dan tanaman liar di samping rumah. Bersama seorang rekan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=71&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Aku sebetu</span><span lang="IN"><img class="alignleft size-full wp-image-83" title="jagung2" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/jagung2.jpg?w=151&#038;h=112" alt="jagung2" width="151" height="112" /></span><span lang="IN">lnya sama sekali tidak berlatar belakang petani. Tak ada seorang p</span><span lang="IN">etani pun dalam silsilah keluargaku. <em>Makanya</em>, aku sendiri heran bahwa pada akhirnya aku bisa bekerja <em>sambilan </em>sebagai petani – ladang di samping tugas utamaku sebagai pengajar di seminari.<span id="more-71"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span></span><span lang="IT">Semua bermula dari tanah kosong penuh ilalang dan tanaman liar di samping rumah. Bersama seorang rekan pengajar dan dua orang siswa, aku membuka lahan baru, membabat rumput – rumput dan tanaman liar sehingga tersedialah tanah sepetak yang siap ditanami. Secara kebetulan, aku mendapat bibit kacang panjang dari seorang suster. Bibit segera kutanam di ladang baru. Beberapa murid mengajariku membersihkan ladang, mencabuti rumput – rumput liar di sekitar tanaman, dan membuat gundukan tanah untuk menunjang kekuatan akar tanaman kacang yang telah nampak memanjang setelah satu bulan masa tanam. Tiga bulan sesudahnya, kebun yang sepetak itu nampak dipenuhi oleh tanaman kacang panjang yang gemuk dan lebat. Hampir setiap hari aku memetik kacang panjang. Selama satu bulan masa panen kacang panjang, komunitas tempatku tinggal mendapat suplai kacang panjang dari kebunku. Lumayan, ada sedikit dana yang bisa disimpan, atau bisa juga dana yang biasa dipakai untuk membeli sayur di pasar dipakai untuk membeli kebutuhan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span>Sebagai seorang pemula dalam dunia berladang/bertani, panen kacang panjang adalah pengalaman istimewa dalam hidupku. Rasanya aku seperti mengalami mukjijat ketika aku melihat sendiri biji – biji yang kutanam telah bertumbuh dan memberikan hasil sedemikian rupa. Rasanya memuaskan saat aku melihat dan mengalami bahwa tanah yang kuolah dan kusiangi dari rumput – rumput liar telah memberikan kemungkinan bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span>Semenjak panen kacang panjang itu, aku semakin termotivasi untuk bekerja di ladang. Selama beberapa hari, aku memperluas ladang dengan membuka lahan baru. Aku mulai mengembangkan tanaman tomat, kacang tanah, jagung, semangka, dan pepaya. Sampai dengan saat aku menulis kisah ini, pepayaku sedang berbuah lebat dan terus memberikan hasil yang memuaskan. Untuk makanan pokok, aku menanam ketela pohon. Tanah di pulau Guadalcanal nampaknya cukup subur untuk jenis tanaman umbi – umbian. Namun, struktur tanah dan cuacanya yang tidak menentu nampaknya kurang menguntungkan bagi tanaman padi, meski toh bisa juga menanam padi asalkan dengan kerja keras dan biaya yang tidak sedikit untuk membuka lahan dan mengolah tanah (sawah atau ladang padi membutuhkan area yang luas, sementara pulau – pulau di Solomon kecil – kecil dengan hutan dan ilalang di segala tempat). Selain tidak praktis, bagi kebanyakan orang di Solomon menanam dan mengolah padi masih terasa asing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span>Di antara banyak sayur dan buah yang kutanam, jagung adalah tanaman favoritku. Aku paling setia merawat jagung setiap hari, menjaga arah pertumbuhannya agar tegak berdiri, serta menambah gundukan tanah agar akar – akarnya kokoh kuat berdiri. Hasil panen jagung, karenanya, selalu menggembirakan. Rasanya manis. Bijinya besar dan mantap. Semua itu tidak lain karena aku selalu mengunjungi ladang, mengamati pertumbuhannya, mencabuti ilalang yang akan “mencuri” nutrisi tanah, merawat, serta menjaga dasar tanah agar akar – akarnya mencengkeram tanah dengan kokoh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span>Sambil menunggu panen jagung, aku berefleksi tentang betapa pentingnya merawat dan menjaga pertumbuhan hidup kita. Bahwa hidup kita memerlukan dasar yang kokoh untuk menjaga dan menunjang kekuatan hidup itu sendiri. Tanah yang kokoh amat penting bagi dasar pertumbuhan. Tanah yang baik bagi hidup bisa berarti: keyakinan, kepribadian yang sehat, wawasan yang integral dan seimbang, kesehatan mental dan tubuh, demikian seterusnya hingga setiap orang bisa menambahkan daftar yang diperlukannya bagi pertumbuhan diri sambil “menunggu jagung masak”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> </span>Aku menyadari, <em>de facto</em>, merawat dan menjaga pertumbuhan bukan persoalan yang gampang bagi setiap orang. Seorang petani ladang di Solomon, misalnya, harus bersiap – siap menghadapi gagal panen apabila mereka malas merawat dan menjaga pertumbuhan tanaman. Rumput – rumput liar dan ilalang yang tinggi siap menghimpit tanaman muda dan merebut nutrisi tanah habis – habisan hingga sayur – sayuran yang ditanam bisa menjadi amat kurus dan tidak berguna. </span><span>Belalang dan ulat siap memakan habis daun – daun jagung atau kubis, bahkan sejak mereka masih muda. Anjing – anjing dan babi – babi bisa berkeliaran di ladang merusak tanah dan tanaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ya, sebetulnya alam telah mengajari para petani untuk tahu membaca alam, untuk hidup seturut kebijakan – kebijakan alam, mengatasi kemalasan, serta menyingsingkan lengan untuk mengolah tanah dan tanaman. <strong>Tiada manusia yang lebih gigih memperjuangkan alam dan pertumbuhan daripada seorang manusia petani. Tiada elemen kehidupan yang lebih bijaksana mengajarkan makna pertumbuhan, respek, ketekunan, dan keselarasan selain daripada alam itu sendiri. Alam adalah guru kebijaksanaan dan seorang manusia petani adalah teladan murid alam yang setia</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Sampai pada titik refleksi ini, aku menjadi bergidik dan ngeri karena aku teringat bahwa sekarang alam sedang di ambang kehancuran oleh eksploitasi dan kesombongan para pemburu profit dan finansial. Bumi menjadi makin usang dan tua untuk dihuni. Energinya makin meredup untuk menjamin kehidupan yang nyaman bagi semua orang. Bersama dengan kehancuran alam, para petani (murid alam yang setia) juga makin merintih didesak oleh situasi sulit, oleh tanah yang makin “kecanduan” pupuk kimia, atau lahan yang makin tipis akibat <em>ditimpuki</em> dengan supermarket dan mall atau perumahan elit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span><span lang="IT">“Sambil menunggu jagung masak”, aku mensyukuri kultur kehidupan dan pertumbuhan yang sedang terjadi di ladangku, serta meratapi kultur kematian (bahkan kematian dalam kehidupan) di banyak tempat lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span>Holy Name of Mary Seminary,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span>Awal Maret 2009</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=71&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/ongoing-formation-sambil-menunggu-jagung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/jagung2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jagung2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Simbol dan Perayaan Simbol (2), Berbagi Pengalaman dalam Pesta Adat Masyarakat Suafa di Kepulauan Solomon</title>
		<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/simbol-dan-perayaan-simbol-2-berbagi-pengalaman-dalam-pesta-adat-masyarakat-suafa-di-kepulauan-solomon/</link>
		<comments>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/simbol-dan-perayaan-simbol-2-berbagi-pengalaman-dalam-pesta-adat-masyarakat-suafa-di-kepulauan-solomon/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 03:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
				<category><![CDATA[Turne Misi (My Mission Journey)]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[kebersamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Makan]]></category>
		<category><![CDATA[Memasak]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Simbol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ongoingformation.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, orang sekampung Suafa Bay di Pulau Malaita sedang mempersiapkan pesta adat untuk menyambut kaum muda peserta pekan olah raga yang diselenggarakan oleh paroki Takwa. Untuk level masyarakat di Pulau Malaita, kegiatan ini memberi arti yang cukup besar. Ada banyak orang muda dari pelbagai pulau kecil di sekitar Suafa Bay dan dari kampung – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=60&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><span lang="IN"><span><br />
</span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span lang="IN"><span> <img class="alignleft size-full wp-image-62" title="meal-2" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-2.jpg?w=183&#038;h=137" alt="meal-2" width="183" height="137" /> </span>Pagi itu, orang sekampung Suafa Bay di Pulau Malaita sedang mempersiapkan pesta adat untuk menyambut kaum muda peserta pekan olah raga yang diselenggarakan oleh paroki Takwa. Untuk level masyarakat di Pulau Malaita, kegiatan ini memberi arti yang cukup besar. Ada banyak orang muda dari pelbagai pulau kecil di sekitar Suafa Bay dan dari kampung – kampung di pedalaman yang datang untuk berpartisipasi. Aku datang sebagai tamu sekaligus pembicara dalam salah satu sesi.<span id="more-60"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><span><span> </span>H</span><span lang="IN"><span><img class="alignleft size-full wp-image-61" title="meal-1" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-1.jpg?w=179&#038;h=132" alt="meal-1" width="179" height="132" /></span></span><span>al yang menarik yang kuikuti pagi itu adalah persiapan pesta adat pembukaan. Yang dipersiapkan adalah perjamuan makan. Ada begitu banyak orang terlibat untuk memasak dan menumbuk makanan dalam jumlah besar. Yang dicampur dan ditumbuk bersama – sama adalah ketela pohon, ketela rambat, dan kacang tanah. Ada sekitar 10 – 12 orang yang menumbuk ramai – ramai dalam sebuah <em>lumpang </em>panjang. Semuanya laki – laki. Sambil menumbuk, mereka menyanyi dengan ritme yang sesuai dengan irama tumbukan sehingga mirip <em>canoe racing</em>. Ketela ditumbuk lebih dulu sebelum dicampur dengan kacang yang sebelumnya juga sudah ditumbuk menjadi bubuk. Hasilnya semacam <em>gethuk</em> Jawa namun dengan rasa yang sama sekali berbeda. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menumbuk ramai – ramai dalam jumlah besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><span><span> </span>Sesudah “ritual” memasak selesai, jamuan makan pesta adat dalam rangka pembukaan pekan olah raga siap dimulai. Ada sekitar 300 – an kaum muda yang hadir. Kaum muda yang sudah berkumpul itu membentuk barisan memanjang, terdiri dari enam baris. Masing – masing barisan berhadapan dengan barisan lainnya hingga terbentuklah tiga pasang barisan yang saling berhadapan. Di sela barisan yang sedang berhadapan, daun – daun pisang diletakkan di atas tanah sebagai alas makanan. Ketela yang sudah ditumbuk bercampur bubuk kacang tanah, segenggam nasi, sayur, sepotong ikan, dan secuil daging, adalah menu untuk masing – masing orang, yang kesemuanya itu diletakkan di atas lembaran daun pisang di atas tanah. Sementara menunggu pembagian jatah makanan selesai, peserta yang sudah mendapat <em>jatah </em>sibuk mengusir lalat dengan daun – daun di tangan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><span><span> </span></span><span lang="IT">Ketika semua peserta sudah mendapatkan <em>jatahnya</em>, pesta perjamuan adat pun dimulai. Semua orang duduk di tanah dan mulai meraup bongkahan nasi, “<em>gethuk</em>” ketela, lauk ikan dan daging, serta sayur. Semua makan dengan lahap. Tidak seorang pun menggunakan sendok. Semua dimakan dengan tangan telanjang (dalam bahasa Jawa: <em>muluk</em>), tanpa peduli apakah tangan kotor atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><span lang="IT"><span> <img class="alignleft size-full wp-image-63" title="meal-3" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-3.jpg?w=182&#038;h=242" alt="meal-3" width="182" height="242" /> </span>Sesungguhnya, aku sempat merasa jijik untuk makan pada saat itu. Betapa tidak. Semenjak makanan – makanan itu diletakkan di atas lembaran daun pisang di atas tanah, lalat tidak henti – hentinya datang berkerumun. Debu – debu jelas tidak terhindarkan hinggap di makanan. Sementara itu, tangan – tangan yang mengusir lalat nampak seringkali tidak terkonsentrasi sehingga dengan mudah lalat – lalat hinggap di mana – mana. Boleh dikata, sebenarnya sejak diolah dan dimasak <em>rame – rame</em>, makanan sudah tidak higienis. Ada pula tangan – tangan kotor atau campuran keringat dalam makanan. Tapi, sebisa mungkin aku berusaha untuk <em>cuek </em>dan tidak berpikir lebih jauh soal kebersihan makanan. </span><span>Kupikir, toh banyak orang yang makan. Kalau ada yang keracunan makan, pikirku, temannya pasti banyak. Malah ada orang dari pelbagai kampung yang ikut makan, bukan hanya sekampung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><span><span> </span>Sesungguhnya, ada realitas yang lebih dalam yang membuat semua orang makan dengan lahap tanpa berpikir lebih jauh soal kebersihan makanan, yaitu soal rasa <strong>kebersamaan dan solidaritas sosial</strong>. Makanan disajikan dalam kesederhanaan, <strong>sama rata sama rasa</strong>, dengan kualitas dan kuantitas makanan yang sama (sekepal nasi dan ketela yang sudah ditumbuk, sepotong ikan, secuil daging ayam, dan sayur – demikian untuk masing – masing sama takarannya, tanpa kecuali). Semua makan dengan tangan (<em>muluk</em>). Semua duduk di tanah. Semua itu adalah nilai kebersamaan yang sedang dirayakan. Ketika orang – orang mulai makan, rasa kebersamaan merayapi setiap orang dalam perasaan menyatu sama lain. Kebersamaan dan solidaritas itu mendapatkan kedalaman rasa dan maknanya persis ketika orang – orang sedang merayakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span>Inilah kedalaman makna simbol yang ditemukan ketika simbol itu sendiri sedang dirayakan. <strong>Simbol yang dirayakan itu membuka diri dan menunjukkan maknanya, meskipun tidak seluruh makna secara lengkap ditangkap oleh setiap orang secara sama</strong>. Yang jelas, <strong>simbol itu menghadirkan dan membuka suatu realitas ketika setiap orang merayakannya</strong>, dalam hal ini realitas kebersamaan. Dengan kata lain, kedalaman makna itu menjadi demikian unik bagi masing – masing orang ketika ada <strong>keterlibatan</strong> dalam perayaan simbol itu sendiri.<img class="alignleft size-full wp-image-64" title="meal-4" src="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-4.jpg?w=158&#038;h=119" alt="meal-4" width="158" height="119" /> Demikianlah, detail – detail persoalan kebersihan dan mutu makanan tidak sedikit pun terlintas di benak orang ketika mereka memulai pesta adat makan bersama. Yang dirasakan adalah rasa kebersamaan yang menyatu sama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span>Masih ada begitu banyak simbol dan perayaan simbol di kampung – kampung di Solomon Islands yang secara bertahap dan terus – menerus telah mengukuhkan rasa identitas masing – masing suku sebagai satu keluarga besar.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ongoingformation.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ongoingformation.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ongoingformation.wordpress.com&amp;blog=6419054&amp;post=60&amp;subd=ongoingformation&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/03/03/simbol-dan-perayaan-simbol-2-berbagi-pengalaman-dalam-pesta-adat-masyarakat-suafa-di-kepulauan-solomon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef75c18e488ec2f4a8454a8ba4fee2db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emanuelprast</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meal-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meal-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meal-3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ongoingformation.files.wordpress.com/2009/03/meal-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">meal-4</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
