“MI KAM FROM INDONESIA”

takwayasi

Aku sedang duduk-duduk di tepi pantai. Di hadapanku terbentang lagoon yang indah. Air laut biru nan indah di antara kedua pulau terbentang dalam riak ombak yang memercik karang-karang di tepi pantai. Sejak duduk di situ, tak habis-habisnya aku menikmati keindahannya. Angin laut yang kadang kencang berhembus menerpa mukaku. Di tengah-tengah lagoon, pulau-pulau karang bertebaran. Batu-batu karang itu terbentuk menjadi pulau karena memang dengan sengaja orang menyusunnya bertahun-tahun sebelum mendirikan rumah tinggal di atasnya. Untuk itulah, pulau karang itu juga disebut artificial island (=pulau buatan).

Tiba-tiba anak-anak kecil melenyapkan “kontemplasiku” ketika mereka mendekatiku dan bertanya:
”Hu nao nem blong yu?” (=Siapa namamu?; bahasa Pidgin, bahasa nasional Solomon Islands).
“Emanuel”, jawabku singkat.
“Yu from wea? Cina?” (=Darimana asalmu? Cina?)
“No. Indonesia.”
“Yu save fait ya?” (=Kamu tahu caranya berkelahi?; mungkin anak-anak ini bertanya demikian karena mengira aku orang Cina; mereka teringat kungfu Cina yang sering dilihat di film. Film-film kungfu Cina memang cukup digemari di Solomon Islands).

Demikianlah sekelumit pengalaman pertamaku berkomunikasi dengan anak-anak di Kepulauan Solomon. Ya. Saya adalah misionaris di Kepulauan Solomon yang kebetulan sedang mendapat cuti di tanah air pada tahun pertama. Saya bekerja sebagai staf pengajar di Holy Name of Mary Seminary (HNMS), satu-satunya seminari milik tiga keuskupan di Kepulauan Solomon. Selain itu, saya masih membantu karya-karya pastoral di paroki-paroki di Solomon.

DI MANAKAH KEPULAUAN SOLOMON ITU?

Selama cuti di Indonesia, banyak orang bertanya pada saya: “Romo bertugas di mana?” Kujawab singkat: “Di Kepulauan Solomon”. Biasanya si penanya manggut-manggut sambil mengernyitkan dahi menandakan usaha untuk mencari tahu di mana letak Kepulauan Solomon. Bagi mereka yang terbiasa lugas, langsung bertanya: “Kepulauan Solomon itu di mana sih, Romo?” Dari situ, biasanya saya mulai berceritera panjang lebar tentang karya misi di Solomon Islands. Dan orang baru ngeh bahwa Kepulauan Solomon adalah bukan bagian dari Indonesia.

Sesuai namanya, Solomon Islands (Kepulauan Solomon) merupakan negara merdeka yang terdiri dari pulau-pulau kecil dan secara geografis terletak di sebelah timur Papua New Guinea (PNG). Para penjelajah Eropa menamai negeri itu mengikuti nama Raja Sulaiman dalam Kitab Suci. Solomon Islands menjadi wilayah yang merdeka dari jajahan Inggris pada 1978. Sebelum sejarah kolonisasi mencapai wilayah ini, Kepulauan Solomon masih tetap terasing sampai dengan kedatangan para misionaris pada abad 19. Sebagian besar dari 260.000 penduduknya adalah orang rumpun Melanesia (berkulit hitam dan berambut keriting). Selain itu, masih terdapat orang-orang dari rumpun Polinesia dari pulau-pulau (negara) lain di lautan Pasifik, sedikit orang Eropa, dan orang-orang Cina (Cina daratan maupun Taiwan) yang umumnya menjadi pedagang dan menguasai roda perekonomian nasional.

“ROMO KERASAN NGGAK DI SOLOMON?”

Ini adalah pertanyaan kedua yang sering kuterima. Pertanyaan ini kedengaran tidak pas bagi misionaris pemula seperti saya, sebab pada tahap pertama seorang misionaris pastilah mengalami masa adaptasi dan belum terpikir soal kerasan atau tidak. Masa beradaptasi yang tidak ringan pada tahap pertama kurasakan ketika aku tinggal di paroki Takwa, Keuskupan Auki, propinsi Malaita, Solomon Islands.

Pertama-tama, aku harus beradaptasi dengan suasana pedesaan yang sepi di tepi pantai. Ke mana-mana perjalanan ditempuh atau dengan berjalan kaki, atau dengan menggunakan sampan atau speed boat. Padahal, aku lahir dan besar di wilayah yang jauh dari laut atau lingkungan berair. Di Takwa (dan di sebagian besar pedalaman di Solomon) tidak ada listrik dan televisi. Untuk penerangan tiap hari, digunakan lampu minyak. Tidak setiap hari ada pasar. Hanya seminggu sekali. Bahan-bahan makanan pokok mesti diatur agar cukup sampai hari pasaran tiba. Di Takwa, kadang-kadang sistem barter masih diterapkan. Ketela dan buah-buahan kadang-kadang masih bisa dibarter dengan satu celana panjang atau pakaian.

Tantanganku yang kedua adalah beradaptasi dengan bahasa setempat. Ada sangat sedikit orang di sekitar paroki Takwa yang bisa berbahasa Inggris. Umumnya, orang berbicara dalam bahasa daerah. Dengan demikian, aku mesti belajar bahasa daerah mereka sedikit demi sedikit. Untunglah, tiap sore hari aku berdoa rosario dengan umat dalam bahasa daerah. Hal ini tentu saja membantuku menambah kosa kata. Nampaknya, kemampuan berbahasa asing sangat vital bila orang mau cepat kerasan di daerah baru. Karena setiap hari aku mencatat kosa kata bahasa daerah Takwa, aku dengan cepat mampu berkomunikasi dengan masyarakat di sana. Ini memberi poin bagiku untuk diterima oleh umat dengan baik. Aku yang sempat stress pada awal mula, sedikit demi sedikit mulai merasa kerasan.

MENGEMBANGKAN SPIRITUALITAS KESEHARIAN

Berada di tempat terpencil dalam kesendirian memberiku pelajaran tentang arti penting menghayati keseharian dengan tekun dan setia. Ketekunan dan kesetiaan dalam keseharian hidup semakin dituntut ketika aku berada di kampung untuk turne misa. Keseharian di tanah misi tentu berbeda dengan di tanah air sendiri terutama karena perbedaan budaya, norma-norma masyarakat yang berlaku, perbedaan alam, bahasa, dan lain sebagainya.

Keseharian yang pertama-tama kutekuni adalah masalah buang air besar. Di kampung-kampung di Solomon, masyarakat belum terbiasa membangun toilet untuk sarana MCK. Mereka buang air besar di rawa-rawa, di ladang, atau bahkan di lumpur di bekas rawa-rawa yang sudah tak berair. Ini tentu kedengaran tidak nyaman. Tapi memang begitulah situasinya. Malah aku sempat menderita gatal-gatal di sekujur tangan setelah tinggal seminggu di salah satu kampung. Menurut orang kampung, aku menyentuh dedaunan beracun sewaktu buang hajat. Malah aku sempat dikira kencing di tempat yang “keliru” (taboo). Bagi orang-orang yang tinggal di pulau-pulau kecil, toilet dibangun jauh menjorok ke laut. Untuk sampai ke toilet, orang harus meniti sebatang kayu yang membentang antara daratan dan toilet sepanjang lebih kurang 200 meter. Pada hari pertama tinggal di salah satu pulau di paroki Takwa yang bernama Pulau Tauba, aku harus merangkak meniti sebatang kayu untuk buang air besar atau kencing. Padahal aku termasuk orang yang sering kencing. Sementara kencing sembarangan dianggap melanggar kesopanan di pulau Tauba, jadilah aku sering merangkak-rangkak ke toilet sampai berkali-kali dalam sehari. Situasi-situasi keseharian yang amat berbeda inilah yang memberiku pelajaran tentang kesetiaan dan ketekunan, untuk tidak lari dari kesulitan hidup, melainkan menghadapinya.

cam_1119Ketika masa tinggalku di paroki Takwa habis (aku tinggal di sana selama tiga bulan), aku pindah ke Holy Name of Mary Seminary, yakni satu-satunya seminari milik tiga keuskupan. Sekali lagi aku belajar memaknai keseharian hidup dalam ketekunan dan kesetiaan. Hidup di seminari lebih monoton, dan terkadang membosankan. Aku setiap hari mengajar filsafat dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Perbedaan budaya dan bahasa membuat para siswa sering tidak memahami pelajaranku. Bahasa Inggrisku sering tidak mereka pahami. Sebaliknya, aku pun tidak paham bahasa Inggris mereka akibat pengaruh dari bahasa Pidgin (yang sering disebut juga dengan Broken English). Padahal, mata kuliah filsafat sendiri sudah merupakan bidang yang sulit. Aku sempat stress mengajar.

Namun, sekali lagi, ini semua mengajariku makna kesetiaan dan ketekunan dalam keseharian hidup. Untuk mengatasi kesulitan mengajar, aku menjadi rajin membaca. Aku menyempurnakan diktat-diktat kuliah setiap semester. Untuk meng-update bahasa Inggrisku (karena dengan bahasa inilah aku mengajar), aku secara rutin belajar grammar, listening (earring), dan conversing, dengan menggunakan segala sarana yang ada. Itu semua tidak lain adalah untuk meningkatkan mutu pelayananku dalam mengajar para calon imam di Gereja masa depan di Solomon Islands.

BELAJAR DARI KEBUN

Di Solomon, saya punya sepetak kebun di samping rumah tempatku tinggal. Kebun itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menanam pelbagai sayuran. Setiap sore, aku bergumul dengan tanah, mencangkul, menyiram, mengolah tanah, dan mencabuti rumput. Lumayan hasilnya. Dalam setahun, aku sudah berhasil menghidupi komunitasku dengan hasil panen yang baik. Ada kacang panjang, semangka, jagung, tomat, kacang tanah, papaya, nanas, dan pisang.
Biasanya setelah bekerja keras di kebun, aku mengalami kesegaran luar biasa. Aku mendapatkan energi positif untuk mencintai alam dan lingkungan hidup. Aku belajar untuk menjadi care terhadap alam dan lingkungan hidup. Setiap kali aku “menjenguk” kebunku, lalu mengusir belalang yang memakan daun-daun kubis atau ulat jagung. Aku menjadi terbiasa untuk mencintai alam dan tumbuhan ketika aku menjadi sabar menunggu pertumbuhan dan pada saatnya memetik hasil panen.
Inilah ketekunan dan kesetiaan dalam keseharian yang telah diajarkan oleh alam kepadaku. Kebunku telah memberiku energi positif untuk belajar bersabar dan menghargai proses pertumbuhan sebagai kodrat alam.

MENJALANI MISI KRISTUS

Segala kesulitan dan tantangan dalam misi di Solomon Islands (terutama tantangan alam dan budaya) memberiku arti penting dalam proses pembelajaran hidup. Aku belajar untuk menghayati seluruh karya misi ini sebagai karya Allah ketika aku mulai melihat pertumbuhan di sana-sini. Allah-lah yang menyelenggarakan segala sesuatu, bahkan dalam segala keterbatasan fasilitas hidup di tanah misi. Hanya kepada-Nya sajalah aku menggantungkan hidupku sambil berharap untuk semakin mencintai misi-Nya di dunia, demi kebesaran dan kemuliaan Allah yang lebih besar.

Solomon Islands,

Transisi 2007 – 2008

Comments are closed.

%d bloggers like this: