Hidup di tengah Masyarakat Semak


solomon-dan-anak-anak-kampung

Berikut ini adalah sharing pengalamanku hidup di tengah masyarakat semak di salah satu stasi dari paroki di wilayah keuskupan Malaita, Solomon Islands. Sharing ini kuambil dari buku harian yang sempat kutulis selama aku tinggal di sana. Aku hidup di sana selama seminggu untuk membantu pelayanan pastoral – sakramental umat setempat.

MEMBANGUN SURVIVAL SYSTEM DI HARI – HARI PERTAMA

Perasaan pertama yang kurasakan selama hari – hari awal hidup di masyarakat semak adalah, bahwa aku merasa hidupku seakan tercabut dari akarnya. Pada hari – hari pertama, aku bertahan hidup dalam dunia semak belukar dengan harapan bahwa, sekembaliku ke pusat paroki, segala fasilitas hidup akan kembali ke keadaan normal. Sebab, saat ini aku hidup di masyarakat semak yang tanpa listrik. Tiap malam, aku hanya hidup cukup dengan penerangan dari lampu “teplok” dan bunyi binatang – binatang malam di sekitar rumah tempat aku tinggal.

Aku hidup dengan masyarakat tanpa WC, tanpa toilet dan kamar mandi. Tiap pagi, aku mencari semak – semak yang cukup tersembunyi dan jauh dari perkampungan penduduk, lalu jongkok dengan perasaan was – was akan binatang merayap, lantas buang hajat di situ. Orang kampung kadang pergi ke pantai di malam hari untuk buang hajat. Untuk buang hajat di laut, aku takut dengan ular atau binatang air. Selain itu, jalan ke sana amat licin. Maka, aku pilih pergi ke rerimbunan semak untuk buang hajat. Perjuangan untuk buang hajat di tengah semak – semak atau di sekitar hutan bakau amat menyiksa diriku di hari – hari pertama. Untungnya, setelah lewat lima hari tinggal di kampung tersebut, seorang katekis yang cukup peduli dengan situasiku membantu aku. Dia berinisiatif untuk menggali lobang kecil di tengah semak – semak, lalu dibangunnya semacam dinding kecil dari dedaunan di sekelilingnya. Itulah WC semi permanen yang bisa kupakai sampai hari terakhir aku kembali ke pusat paroki. Katekis itu mengaku cukup kelelahan dan merasakan pegal – linu di badan akibat menggali lubang hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Oh, terima kasih katekis!

Demikianlah, saat mandi di kampung pun menjadi saat perjuangan bagiku. Sumber air di kampung itu hanya ada di satu tempat dan dipakai oleh orang seluruh kampung. Terpaksa aku hanya mandi sekali sehari. Kadang – kadang dalam 2 atau 3 hari, aku terpaksa tidak mandi sampai seluruh badanku terasa gatal – gatal dan berbau keringat yang menyengat. Bagi orang di kampung tersebut, hal itu amat biasa. Syukurlah, ada beberapa orang yang kasihan padaku dan membawakan seember air pada sore hari. Jadilah aku mandi hanya dengan air seember di samping rumah tempat tinggalku. Bahkan, kadang – kadang aku bisa hanya menggunakan air setengah ember saja sehingga setengahnya lagi masih bisa kusimpan untuk keperluan lainnya.

Hal yang tak kalah merepotkanku di hari – hari pertama adalah soal bahasa. Tidak banyak orang di kampung tersebut yang bisa berbahasa Inggris. Kebanyakan mereka berbahasa lokal. Beberapa kaum muda masih bisa berbahasa broken English atau yang biasa disebut dengan Pijin English. Terpaksa, aku pun berlatih berbicara dengan broken English, sebab seandainya aku mencoba menggunakan standard English, mereka malah tidak mengerti. Kadang terjadi, orang – orang tertawa terbahak – bahak karena ada ceritera lucu di antara mereka. Aku hanya tersenyum karena tidak paham bahasa mereka. Aku hanya menikmati suasana kampung yang akrab dan menggembirakan.

MASYARAKAT PEJALAN KAKI YANG KUAT

Hal lain. Di kampung – kampung, masyarakat semak amat kuat berjalan kaki. Kaki mereka amat kuat. Ke mana – mana, mereka berjalan kaki melintasi semak, bukit dan gunung, sungai maupun jalan datar. Kulit mereka juga amat kuat. Mereka amat terbiasa berjalan di sekitar semak – semak yang tinggi dan rimbun, sehingga kulit mereka amat terbiasa tertusuk – tusuk oleh ujung semak yang lancip. Ke mana pun berjalan, orang kampung tidak mengenakan alas kaki. Dengan bertelanjang kaki, kulit kaki mereka amat tebal dan kuat di jalan panas maupun dingin, di jalan berbatu atau pun jalan berlumpur yang becek dan licin.

Rambut orang – orang kampung semak juga amat kuat. Mereka terbiasa berjalan di bawah terik matahari yang panas. Mereka cukup sering kupergoki sedang “petan” (mencari kutu rambut kepala). Kadang terjadi “petan tandem”, yaitu lima sampai enam orang saling “metani”. Sekali waktu, anak – anak pernah datang kepadaku dan memintaku untuk “metani” kepalanya. Mereka tahu bahwa aku berkuku panjang sehingga dengan mudah aku bisa menemukan kutu rambut kepala dan membunuhnya dengan saling menumbukkan 2 kuku jari. Dari situlah aku tahu kalau kepala anak – anak kampung semak ini penuh dengan kutu rambut.

Akibatnya, rambutku pun mulai berkutu. Sudah hampir seminggu aku belum keramas sejak aku meninggalkan pusat paroki. Di kampung, keramas amat repot. Air bersih sulit didapat. Orang kampung pun tidak pernah atau jarang keramas. Akibatnya, kutu rambut dengan mudah menular. Kepalaku terasa gatal dan panas.

ANAK – ANAK

Kehadiran anak – anak sungguh menghiburku selama aku tinggal di tengah masyarakat semak. Semula, mereka takut padaku. Dengan kulitnya yang hitam dan bertelanjang (di kampung, anak – anak kecil sering dibiarkan telanjang bulat ke sana ke mari oleh orang tuanya), mata mereka menunjukkan keheranan atas kehadiran orang asing yang baru datang. Aku sungguh merasa gembira ketika melihat anak – anak mulai tidak takut padaku. Bahkan, ada balita yang mau kugendong. Anak – anak ini juga masih ingat dengan baik permainan – permainan yang secara iseng kuajarkan kepada mereka selepas doa Rosario tiap sore hari. Mereka kadang minta kugandeng tangannya. Mereka mengajari aku berbahasa lokal dengan menunjuk suatu benda dan menyebutkan namanya, lalu aku menirukannya. Aku mencatat semua kata praktis yang mereka ajarkan sehingga dengan mudah dan cepat kuhafal.

Ketika waktu sudah amat senja dan mereka mau pulang ke rumah masing – masing, anak – anak sering menyempatkan diri untuk melambaikan tangan sambil berteriak: “Manu! Rodo Diana” (Manu! Selamat malam). Ya, mereka memanggilku “Manu”, kependekan dari nama baptisku, Emanuel. Ungkapan anak – anak yang polos ini sungguh menghibur dan menguatkanku di tengah masaku membangun survival system di tengah masyarakat semak.

REFLEKSI: ALLAH MENGIRIM ORANG – ORANG BAIK

Selama aku hidup di kampung masyarakat semak, orang – orang baik datang dan membantu aku. Ada katekis yang membangun WC semi permanen untukku. Ada seminaris yang membantu menjembatani komunikasiku dengan umat setempat akibat keterbatasan bahasa. Ada beberapa ibu yang setia datang ke rumah tempat aku tinggal untuk membawa makanan, ketela rambat atau ketela pohong, ikan, kopi, atau air panas. Kadang – kadang ada mudika yang datang membawa nanas atau semangka untukku. Perhatian – perhatian itu pelan – pelan mulai membangun rasa aman dan percaya diriku di tengah masyarakat semak ini. Meski aku memiliki keterbatasan bahasa untuk berbincang dengan mereka, syukur kepada Allah, aku masih bisa berkomunikasi dengan segala kemampuanku, termasuk dengan bahasa tangan dan ekspresi wajah.

Allah memang mengirim orang – orang baik untukku. Tetapi, aku tidak perlu “ge – er” dengan kebaikan Allah ini. Sebab, dalam hal ini memang berlaku prinsip St. Vinsensius: “Kalau aku mengurus urusan – urusan Allah, Allah juga akan memperhatikan urusan – urusanku”. Aku datang sebagai imam dan misionaris yang siap melayani kebutuhan – kebutuhan pastoral – sakramental. Dengan kata lain, aku sedang mengerjakan “urusan – urusan Allah”, meneruskan misi Yesus sendiri untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Bila aku terus belajar untuk setia dan bertekun untuk mengerjakan “urusan – urusan Allah” ini, maka Dia juga memperhatikan urusan – urusanku. Dia telah mengirimkan orang – orang baik yang datang, membantu, dan menjamin hidupku. Dia telah mengirim anak – anak yang menghibur dan menguatkanku. Dia hadir dalam diri mereka. “Barangsiapa menyambut anak – anak ini dalam namaKu, dia menyambut Aku”.

Syukur pada Allah! DEO GRATIAS!

Malaita, Solomon Islands

Medio Desember 2007

Comments are closed.

%d bloggers like this: