Orang Asing tadi sore

Sore tadi, aku kedatangan seorang Bapak tua yang tak kukenal. Dia mengetuk kamarku dan mengaku sedang membutuhkan pastor karena kepingin mengaku dosa. Bila aku sedang di paroki, hal ini biasa terjadi ketika tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal datang dan memerlukan kehadiran pastor dengan pelbagai alasan. Tetapi, ini terjadi di College. Apalagi, ini di Roma. Ada orang bermacam ragam yang jelas banyak yang tidak kukenal. Maka, aku agak ragu-ragu untuk mengiyakan. Lagian, kok ada orang asing bisa masuk ke College, bahkan sampai naik di lantai dua. Akhirnya, aku iyakan saja dan kuminta dia turun ke lantai dasar dan menungguku di depan Kapel College.

Aku segera sedikit berbenah diri, lalu segera turun sambil membawa stola ungu. Bapak tua itu sudah menunggu di dalam kapel. Ketika dia mulai berbicara, kulihat wajah yang sedemikian kusut dan tua. Dia mulai berbicara tentang pesimisme, kekecewaan, rasa putus asa, kehilangan iman, harapan, para sahabat, dan hidup rohani. Raut wajahnya menampakkan kegelapan batin dan kekusutan masalah. Dia terus-menerus berbicara. Aku biarkan saja dia berbicara panjang lebar sampai dia memberiku kesempatan untuk sedikit memberikan tanggapan. Tanggapan-tanggapan kecilku disambutnya dengan sharing-sharing yang lebih panjang. Tapi pelan namun pasti, dia berubah menjadi lebih menyadari situasi dirinya. Nada bicaranya semakin lebih optimistis. Pembicaraan-pembicaraan di antara kami berkembang dan panjang. Namun, tanpa disadari, hal itu membantunya lebih menyadari situasi dirinya. Muncul kembali harapannya untuk berubah dan menjadi lebih baik. Ahirnya, dia mengucapkan terima kasih, dan setelah menerima berkat, dia pergi sambil memohon didoakan dalam misa harian.

Setelah aku kembali ke kamar, aku baru menyadari apa yang baru saja terjadi. Hidup ini memang seringkali penuh misteri. Orang-orang yang semula tidak kita kenal datang, berbagi ceritera suka duka hidup, lalu pergi sambil membawa setumpuk kenangan baik yang menggembirakan maupun menyedihkan. Bahkan, aku tidak tahu darimana asal Bapak tua tadi, lalu di mana dia tinggal. Dia cuma menyebutkan nama panggilan yang pendek. Tapi, di balik itu semua, sesungguhnya kebersamaan dan berbagi ceritera hidup itu sendiri adalah kesempatan emas yang membantu untuk menyadari situasi diri masing-masing, untuk saling membantu dalam mengampuni atau memaafkan rasa duka dan kecewa di masa lalu, lalu kesiapan untuk saling mendukung secara spiritual untuk bertumbuh secara rohani melalui harapan-harapan yang kembali disusun dengan optimisme. Ya, kebersamaan dan berceritera itu sendiri telah menjadi sebuah nilai untuk bertumbuh.

Aku kembali terpekur di kamarku sendirian bersama buku-buku bahan ujian final yang kian mendekat. Kembali aku memasuki kesendirianku sebagai bagian dari peziarahan hidup itu sendiri.

Bapak tua yang datang kepadaku sore ini ternyata telah mengajariku tentang kesiap-sediaan diri untuk hadir bersama orang lain, mendengarkan orang lain, berbagi suka dan duka, dan kesiapan untuk saling mendukung dalam membangun harapan baru.

Roma, 23 Mei 2006

Comments are closed.

%d bloggers like this: