Keluarga Kita

prast-titipMarilah sejenak kita menengok dua kasus berikut ini.

Keluarga Pak Rukunius dan Bu Damai terbiasa berkomunikasi dengan anak-anak. Apabila ada hal-hal dalam keluarga yang dirasakan mengganjal, mereka segera membicarakannya bersama-sama. Karena kebiasaan baik ini, anak-anak tumbuh dalam keyakinan dan kepercayaan diri yang baik. Mereka tumbuh dalam kesadaran akan pentingnya hidup bersama dalam keluarga. Tapi ini tidak berarti bahwa suami – isteri ini tidak pernah bertengkar. Mereka kadang-kadang juga mengalami salah paham. Namun, mereka tahu bagaimana berdamai dan saling memaafkan berkat komunikasi yang baik di antara mereka. Anak-anak pun belajar langsung dari keteladanan ini, yaitu saling memaafkan.

Keluarga Pak Cekcok dan Ibu Yuliana Gosip semenjak setahun terakhir selalu mengalami kesulitan. Entah kenapa, anak-anak yang dulu nampaknya baik, ketika beranjak dewasa punya kecenderungan memberontak dan pergi dari rumah. Suami – isteri ini sebetulnya menyadari, bahwa merekalah penyebab ketidakharmonisan keluarga. Mereka begitu sering cekcok, bahkan hanya karena masalah sepele. Dan itu sudah terjadi semenjak anak-anak masih kecil. Anak-anak nampaknya selalu dihantui perasaan bersalah apabila suami – isteri ini cekcok di hadapan mereka. Mereka akhirnya bertumbuh dalam perasaan minder. Bahkan, beberapa hari lalu, si anak bungsu mendapat sanksi dari sekolah karena terlibat perkelahian.

Kasus di atas hanyalah bersifat fiktif (termasuk nama-nama yang tercantum adalah rekaan belaka). Tetapi, bukan tidak mungkin salah satu dari kedua keluarga di atas mewakili situasi keluarga-keluarga kita. Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan dari contoh kasus di atas.
Suami – isteri yang rukun akan membawa suasana kasih dan akrab dalam keluarga. Setiap orang hampir dipastikan akan setuju dengan pernyataan ini. Contoh keluarga Pak Rukunius dan Ibu Damai menunjukkan kebenaran ini. Kasih yang tulus dan jujur di antara suami – isteri akan memberi pelajaran yang berharga tentang arti pengampunan, yaitu kesadaran bahwa masing – masing masih belum sempurna sebagai pribadi dan oleh karena itu terdorong untuk saling menguatkan, meneguhkan, dan membantu pertumbuhan kepribadian masing – masing. Suami – isteri yang demikian akan mendukung anak – anak untuk bertumbuh sebagai pribadi yang sehat dan percaya diri.
Contoh dari keluarga Pak Cekcok dan Ibu Yuliana Gosip cukup memprihatinkan kita. Sebab, suami – isteri yang sering terlibat cekcok itu ternyata berpengaruh terhadap pertumbuhan anak – anak mereka. Anak – anak sejak kecil bertumbuh dalam kekhawatiran jangan – jangan orang tua mereka akan bercerai. Anak – anak dengan mudah merasa bersalah, seakan – akan merekalah penyebab pertengkaran kedua orang tua. Mereka sebetulnya amat mencintai orang tua mereka serta berharap bahwa orang tua mereka hidup rukun. Tetapi anak – anak berada dalam situasi yang tidak fair. Mereka “dipaksa” untuk memihak ayah atau ibu, atau untuk menentang salah satu dari mereka. Anak – anak menjadi minder kalau melihat bahwa orang tua teman – teman mereka bisa hidup rukun; bahwa mereka bangga pada orang tua mereka.
Di sini, kita belajar dari contoh saudara – saudara kita dalam dua kasus tersebut, bahwa kasih dan pengampunan amat penting bagi kehidupan berkeluarga. Kasih dan pengampunan di antara suami – isteri akan mendukung keluarga yang sehat dan anak – anak yang cerdas. Di sini, kentara bahwa pemenuhan sandang, pangan, dan papan tidaklah cukup (tentu dengan mengandaikan bahwa kebutuhan – kebutuhan tersebut amat vital bagi setiap orang). Lebih daripada kebutuhan – kebutuhan mendasar bagi hidup, keluarga – keluarga juga perlu menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan pribadi – pribadi untuk menjadi sehat dan cerdas.
Bagaimana dengan keluarga kita?

Comments are closed.

%d bloggers like this: