PASAR TRADISIONAL DI TAKWA

Ini adalah benar-benar pasar tradisional. Hasil bumi diletakkan di tanah dan dijajakan kepada pembeli. Tetapi, tidak ada harga-harga yang bisa dilihat oleh calon pembeli. Harga pasti belum ditentukan ketika pedagang datang ke pasar. Semua bisa ditawar. Mematok harga tanpa bisa ditawar adalah pasar dari dunia modern yang sudah menggunakan standard uang sebagai alat tukar. Lalu, apa keistimewaan Pasar di Takwa ini?

SISTEM BARTER

Pasar tradisional di Takwa ini masih mengenal sistem barter, barang ditukar dengan barang lainnya. Uang memang sudah dikenal di Takwa, tetapi itu hanya bagi sejumlah kecil orang saja. Masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil yang terpencil di sekitar Takwa rata-rata masih belum mengenal uang sebagai alat tukar yang standard. Mereka adalah masyarakat yang tinggal di semak-semak, Maka mereka seringkali juga disebut dengan masyarakat semak. Jadi, masyarakat semak ini pada hari Sabtu pagi keluar dari hutan semak, mengarungi Takwa Lagoon dengan sampan selama beberapa jam, serta membawa hasil bumi atau ikan hasil tangkapan mereka. Mereka datang ke mainland, yaitu pasar Takwa. Di pasar itulah, mereka bisa menukar ikan atau hasil bumi itu dengan minyak goreng, beras, pakaian, dan lain sebagainya. Begitulah, kampung semak mereka yang terpencil (dan sedikit terisolasi dari dunia luar) memang tidak memungkinkan perputaran uang. Bahkan, seandainya memiliki uang pun, seseorang tidak akan tahu untuk apa uang yang dimilikinya itu.

TAKUT DENGAN ORANG ASING

Salah satu karakter umum dari masyarakat semak adalah kecenderungan untuk takut terhadap orang asing. Atau kadang-kadang juga sikap malu-malu. Bila orang asing datang, mereka lari bersembunyi tapi kemudian mengintip dari balik semak-semak. Mereka ragu-ragu, apakah orang asing ini membawa kebaikan atau malapetaka (karena orang asing gampang dicurigai membawa guna-guna, penyakit, atau virus tertentu).

Oleh karena itulah, masyarakat semak tidak jarang menjadi sangat tertutup. Dan ketertutupan inilah yang sekarang amat fenomenal di pasar. Di pasar di Takwa, para pria (kaum lelaki) dilarang keras untuk masuk ke lingkaran bagian dalam. Artinya, di pasar, orang membuat lingkaran dalam dengan memberi tanda berupa batu-batu warna putih yang diletakkan melingkar. Di tengah-tengah lingkaran itu, para pedagang perempuan duduk dengan hasil bumi dagangan diletakkan di hadapan mereka. Para calon pembeli hanya melihat barang dagangan itu dari jauh. Lalu, bagaimana seseorang bisa berbelanja membeli barang atau makanan?

Bila Anda seorang perempuan, Anda dengan leluasa bisa memasuki lingkaran putih itu dan langsung melakukan barter dengan pedagang. Tetapi jika Anda laki-laki, tunggu dulu! Jangan langsung masuk ke lingkaran itu! Bila tidak hati-hati, Anda akan dianggap melanggar adat setempat yang amat membedakan kerja berdasarkan pembagian seksual. Belanja adalah urusan kaum perempuan, bukan laki-laki. Maka, jika Anda laki-laki dan ingin berbelanja sesuatu di dalam lingkaran putih di dalam pasar, Anda harus memanggil seorang perempuan di sekitar situ. Lalu, mintalah tolong padanya untuk membelanjakan keperluan-keperluan yang Anda butuhkan. Jika Anda melanggar aturan adat ini, Anda akan dikenai hukum adat dan kompensasi adat. Anda harus membayar untuk pelanggaran itu.

KERJA MENURUT PEMBAGIAN SEKSUAL

Mengapa sampai terjadi bahwa hanya perempuanlah yang bisa berbelanja di bagian dalam pasar? Bahkan, bagaimana mungkin ada denda adat bagi laki-laki yang melanggarnya?

Ketika kutanyakan hal ini pada penduduk setempat, dia menjawab bahwa itulah tradisi masyarakat semak. Mereka amat terpola oleh pembagian kerja manusia menurut pembagian seksual. Laki-laki melaut, menangkap ikan, atau bekerja di ladang. Perempuan berbelanja, memasak, dan mengurus rumah. Tiap-tiap pekerjaan seakan-akan sudah memiliki karakter seksual, feminin atau maskulin, perempuan atau laki-laki. Pelanggaran terhadap kebiasaan ini dianggap sebagai abnormalitas yang akan dipandang sinis oleh masyarakat. Bahkan, dalam kasus tertentu, ada denda adat (kompensasi adat) untuk pelanggaran itu.

PASAR DAN HAJAT PUBLIK

Pasar di Takwa sekaligus juga berfungsi untuk melaksanakan hajat publik. Apa artinya? Artinya, para pemimpin masyarakat (tokoh masyarakat) kadang-kadang menyampaikan pengumuman-pengumuman tertentu di pasar dengan cara berteriak-teriak sambil berdiri di pusat pasar. Dalam kasus ini, dia boleh memasuki lingkaran dalam pasar.

Selain pengumuman-pengumuman, bisa juga disampaikan nilai-nilai barter barang-barang dagangan. Kadang-kadang si pembicara menyuruh para calon pembeli untuk membeli ikan-ikan lebih dulu. Alasannya, para pedagang ikan harus pulang ke kampung mereka di pulau seberang sebelum malam datang menjelang. Atau, bisa juga si pembicara mengumumkan kepada khalayak bahwa dilarang membeli ikan-ikan lebih dulu. Alasannya, beberapa pedagang ikan belum datang. Kalau ikan-ikan keburu habis, atau calon pembeli pulang ke rumah, tidak ada lagi yang akan membeli ikan-ikan dari pedagang yang baru saja datang. Mereka tentu akan dirugikan. Jadi si pembicara ini bekerja mengatur lalu lintas jual beli atau barter.

Bagaimana para calon pembeli mengerti apa yang dibicarakan? Yaitu, si pembicara (pengatur lalu lintas pasar) berdiri di tengah di pusat pasar di tempat yang paling tinggi. Suaranya tentu cukup keras untuk didengar oleh setiap orang di situ. Lagipula pasar itu sangat kecil, yang sesungguhnya hanya memanfaatkan sedikit tanah lapang terbuka di tengah-tengah semak belukar liar.

Demikianlah pasar di Takwa selain berfungsi untuk bertransaksi atau bertukar barang dan makanan, juga berfungsi sebagai sarana melaksanakan hajat publik. Di pasar publik mendapatkan arti yang sebenarnya.

Di Penghujung Tahun 2007,

Takwa, Pulau Malaita,

Solomon Islands

Comments are closed.

%d bloggers like this: