Simbol dan Perayaan Simbol (1), Suatu Pengamatan dan Pemahaman atas Tarian di Desa Takwa, Solomon Islands

tari-1PEMAHAMAN UMUM

Sebuah simbol dalam masyarakat mengatakan dan merayakan realitas hidup yang dihayati bersama. Dengan simbol, eksistensi identitas masyarakat dinyatakan dan dikomunikasikan baik dalam lingkup intern (di antara masyarakat yang bersangkutan, terutama dengan tujuan agar generasi muda mengenal dan menghayati identitas masyarakat/suku mereka sendiri) maupun dalam lingkup ekstern (agar identitas masyarakat/suku yang bersangkutan dikenal dan diakui eksistensinya oleh masyarakat/suku yang lain).

Mengkomunikasikan simbol dianggap amat penting, bahkan bersifat mistik, bagi masyarakat tertentu. Mengapa? Sebab, simbol itu sendiri menyatakan realitas dan kedalaman nilai – nilai hidup yang tidak boleh disepelekan atau dianggap remeh oleh orang lain. Ini sama nilainya seperti mengkomunikasikan hidup itu sendiri agar eksistensinya dikenal dan diakui. Semakin eksistensi hidup dan nilai – nilainya diakui, semakin pula hidup itu sendiri memiliki kedalaman maknanya. Di sinilah pentingnya pengenalan dan pengakuan atas eksistensi nilai – nilai dalam kehidupan.

Demikianlah, dalam masyarakat, mengkomunikasikan simbol dimulai dengan perayaan – perayaan (ritual) yang bisa disebut pula dengan merayakan simbol. Dengan merayakan simbol, setiap peserta terlibat dalam perayaan dan dengan itu mereka semakin terbiasa dengan simbol – simbol tersebut. Dari situlah mereka mulai memahami makna simbol – simbol yang sedang mereka rayakan. Keterlibatan dalam perayaan simbol menghantar setiap peserta pada pemaknaan. Berkat pemahaman akan makna simbol – simbol tersebut, setiap orang yang terlibat dalam perayaan simbol menemukan realitas hidup yang dihadirkan dalam simbol, yaitu hidup mereka sendiri. Demikianlah, berkat keterlibatan dalam perayaan – perayaan simbol, masyarakat mengokohkan kesadaran mereka akan eksistensi mereka sendiri yang identik dengan eksistensi masyarakat di mana mereka tinggal. Simbol yang kini dirayakan telah membuka kesadaran mereka akan realitas hidup mereka sendiri. Dalam perayaan simbol, identitas masing – masing anggota seakan dikokohkan dalam identifikasi mereka dengan masyarakat mereka. Demikianlah perayaan simbol memberikan kekuatan spiritual kepada orang – orang yang merayakannya.

Dalam bentuknya yang konkret, perayaan – perayaan simbol itu bisa berupa peristiwa – peristiwa tertentu yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat bertahun – tahun, bentuk – bentuk dan arsitektur bangunan tertentu, upacara – upacara ritual, karya – karya seni, percakapan – percakapan, diskusi – diskusi (baca: rembug desa).


SIMBOL DAN PERAYAAN SIMBOL

DALAM TARIAN MASYARAKAT DI TAKWA, SOLOMON ISLANDS

Sejauh kutahu, masyarakat di Takwa amat suka menari dan menyanyi dalam grup. Sebagai grup atau kelompok, mereka amat menawan dalam menyanyi dan menari (action song). Sebaliknya, kalau diminta untuk menyanyi dan menari perorangan, mereka jarang mau. Kalaupun mau, mereka malu – malu melakukannya.

Bagi kebanyakan masyarakat, menari adalah ungkapan atau ekspresi atas realitas kebersamaan hidup dalam masyarakat. Pada saat menari, anak – anak muda pedalaman di desa Takwa mengekspresikan saat – saat mereka bekerja di semak – semak belukar. Mereka menggaruk – garuk sekujur tubuh yang dikerubuti semut atau nyamuk. Mereka melompat – lompat ke kiri, kanan, ke muka, dan ke belakang pada saat menarikan “tarian perang”. Ketika mereka merasakan beratnya beban hidup sebagai masyarakat semak di pedalaman, mereka menari dengan berjongkok dan melompat, menggaruk – garuk, sambil membawa beban di pundak dengan tas dari akar pepohonan yang dianyam dan digantungkan di kepala. Tarian mereka memang masih amat sederhana. Belum ada variasi gerakan yang rumit yang membuat tarian lebih artistik. Semua masih merupakan gerakan polos yang jelas menggambarkan kehidupan mereka sehari – hari. Kostum yang dipakai saat menari pun adalah ekspresi sederhana dari gambaran keindahan alam sekitar hidup mereka. Ada dedaunan yang diikatkan di lengan dan di kepala. Ada cawat dari kulit pepohonan yang menutup daerah paha. Kadang – kadang dipakai pula rumbai – rumbai dari tali plastik berwarna – warni.tari-2

Bahasa keindahan memang bisa diekspresikan dengan segala macam cara dari segala macam level rasa estetis itu sendiri. Justru karena itulah, ekspresi keindahan atas hidup dan alam sekitar tidak pernah tuntas diungkapkan (dan memang tidak perlu dituntaskan). Justru karena tidak pernah tuntas diungkapkan itulah, maka ekspresi atas hidup dan keindahannya semata – mata adalah milik manusia. Mengapa manusia? Sebab, ekspresi keindahan adalah cara manusia dalam mengalami, menginterpretasi, memahami, menyentuh, dan merasakan hidup, realitas, dan keindahannya. Keindahan sesungguhnya tidak pernah terulang dalam bentuk yang sama karena memang keindahan itu total menyatu secara unik dalam pengalaman – pengalaman estetis seseorang.

Keindahan dalam tari – tarian sesungguhnya mau mengatakan bahwa ketika bahasa dan kata – kata manusia belum tumbuh secara matang, tubuh manusia telah menjadi media yang mampu mengkomunikasikan eksistensi dirinya kepada dunianya dan kepada dirinya. Keindahan dalam tarian telah menjadi perayaan simbol yang membuka manusia akan kekagumannya terhadap hidup, roh, jiwa, dan dirinya seutuhnya. Dengan menari, mereka menyadari diri sebagai bagian dari kesatuan hidup dengan nenek moyangnya, dengan hidupnya saat ini, dan sekaligus mereka sedang menyampaikan pesan – pesan kepada generasi muda yang sedang hadir dalam pesta tarian adat tersebut. Menari bagi masyarakat Takwa telah menjadi media perayaan simbol yang menyatukan dimensi waktu dalam kekinian tanpa kehilangan cita rasa dan keindahannya. Dengan menari, mereka menjadi bangga karena telah menjadi dirinya sendiri dan menjadi bagian dari masyarakatnya.


Di penghujung tahun 2007

Takwa, Malaita, Solomon Islands

Comments are closed.

%d bloggers like this: