DARI TULAGI MENUJU KE HATI

Aku biasanya ttulagi-2idak terlalu berharap pada perhatian atau belas kasihan dari orang Solomon. Menurut pendapatku, clan social system atau system “wantok” yang berlaku sebagai sistem sosial di Solomon membuat orang – orang asing tetap mengalami kesulitan untuk sungguh – sungguh diterima sebagai bagian penuh dari anggota masyarakat. Dengan kata lain, integrasi sosial sulit diharapkan dari clannish people. Inilah memang yang terjadi di Solomon Islands. Dan inilah pula yang kurasakan. Sebagai seorang pendatang, aku tidak pernah sungguh – sungguh merasa sebagai bagian dari masyarakat di Solomon. Aku selalu merasa dianggap sebagai orang asing, bahkan oleh murid – muridku sendiri.

Meskipun demikian, bila sedang melakukan tugas pelayanan pastoral ke kampung, aku tetap mencoba melakukan apa yang menurutku baik dalam pergaulan di masyarakat. Aku ingat pepatah lama: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Maka, di kampung pun aku tetap membiasakan diri untuk menyapa orang tiap kali aku berpapasan. Aku selalu mencari tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan menurut adat kebiasaan setempat. So, aku akan terhindar dari resiko dianggap melanggar adat setempat dan keharusan membayar denda adat (kompensasi). Namun toh aku cenderung tetap melihat bahwa orang Solomon tidak akan pernah membalas budi baik orang asing, karena orang asing dianggap bukan bagian dari suku atau wantok mereka.

Suatu ketika, terjadi hal yang membuatku bersyukur atas pengalaman itu sampai dengan hari ini. Waktu itu, aku sedang melakukan kunjungan dan pelayanan pastoral di Pulau Tulagi, pulau seberang yang harus ditempuh selama 4 jam dengan perjalanan kapal dari pulau Guadalcanal tempat aku tinggal. Sudah 3 hari aku berada di Tulagi (dari 10 hari yang direncanakan). Sejak aku tiba, cuaca di Tulagi tidak pernah bersahabat. Angin laut semakin mendekati level badai. Pulau Tulagi yang kecil seakan mau terbang dihembus badai lautan pasifik. Titik – titik air laut sampai ikut terbawa angin kencang dan membasahi dinding – dinding kayu tempat aku tinggal. Kebetulan rumah yang kutinggali terletak sedikit di ketinggian bukit sehingga angin biasa pun dengan mudah menerpa. Tak ada sesuatu pun yang melindungi. Pada hari ke empat, Tulagi benar – benar dihempas angin badai. Hujan lebat turun sepanjang hari tanpa henti. Matahari tidak kelihatan sinarnya sedikit pun. Aku baru sadar, beginilah situasi hidup di pulau kecil di tengah lautan. Cuaca gampang berubah tidak menentu.

Pada sore hari itu juga, aku mulai masuk angin berat. Aku muntah – muntah, terutama saat sesudah makan. Kepalaku terasa pening bukan kepalang pertanda angin sudah menuju ke sana. Sementara itu, di rumah pastoran, aku hanya ditemani oleh seorang muridku. Dia pun jelas tidak mampu berbuat banyak, selain menunggu hujan reda dan mencoba lari ke luar mencari bantuan tetangga. Aku akhirnya rebah di tempat tidur dalam keadaan pening kepala yang amat sangat. Tubuhku mulai demam dan menggigil. Tetapi aku masih sadar untuk tidak mengeluh dan tidak berharap banyak. Tulagi adalah tempat terpencil. Aku tidak berharap akan ada orang yang datang membawa obat atau tidak. Aku pun tidak bisa berharap akan segera sembuh secepatnya mengingat angin yang terus berhembus kencang, sementara tidak ada fasilitas obat apa pun di situ (bahkan termasuk balsem). Aku hanya mencoba bertahan dan terus bertahan, sampai aku merasa seperti bermimpi. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu persis apakah memang aku sedang bermimpi atau tidak. Aku hanya merasa bahwa aku sedang hanyut dibawa oleh arus air yang deras. Aku kedinginan menggigil dalam derasnya air. Aku berteriak – teriak minta tolong. Tubuhku terasa tergoncang – goncang keras. Aku terkesiap dan terjaga.

Ternyata ada seseorang di sampingku menggoncang – goncang badanku. Dalam keremangan kamar yang hanya diterangi oleh sebatang lilin, aku melihat muridku di samping tempat tidurku. Nampaknya aku memang sedang bermimpi buruk, bawaan demam dan pening kepala yang tak kunjung reda. Ada pula seorang perempuan di situ. Ternyata muridku membawa seorang perawat setempat. Di tangannya ada beberapa tablet obat dalam bentuk pil dan kapsul. Aku diberitahu bahwa di luar rumahku saat ini ada banyak orang sedang menunggu perkembangan kesehatanku. Ya, aku memang mendengar suara orang yang sedang bercakap – cakap dalam nada rendah. Kedengarannya memang ada banyak orang. Mereka berada di luar rumah, tidak ada seorang pun yang masuk. Mereka sedang menyatakan rasa solidaritas sambil menunggu berita perkembangan kesehatanku. Agak lucu juga bila terkesan sepertinya mereka sedang berjaga – jaga kalau – kalau aku mati mendadak. Malam itu aku tidak bisa tidur sedikitpun.

Bagiku, ini sebuah surprise. Umat Tulagi memiliki cara tersendiri dalam memberi perhatian dan rasa solidaritas. Sebuah cara yang sederhana, yaitu datang dan berada di sekitar rumah si sakit tanpa ada kata sapaan sedikitpun yang diungkapkan. Juga meskipun mereka tidak pernah menunjukkan diri padaku selama aku sakit, aku tahu bahwa selalu ada orang datang dan berada di sekitar rumahku untuk mencari tahu perkembangan diriku. Mereka sama sekali tidak masuk rumah atau menampakkan diri padaku.

Pada hari ke – 6, aku memutuskan untuk kembali ke pulau Guadalcanal tempat tinggalku selama di Solomon. Meskipun masih sakit, aku memaksakan diri untuk pulang. Di kampung – kampung di Solomon, sakit sekecil apa pun bisa menjadi sangat riskan akibat ketiadaan fasilitas kesehatan yang memadai. Di tengah – tengah badai dan hujan setiap hari, aku jelas tidak akan bertahan. Demam dan pening kepalaku pun tidak kunjung reda.

Setelah situasiku kembali normal beberapa minggu kemudian, secara kebetulan aku bertemu dengan ketua umat distrik Tulagi di ibukota Honiara. Dia berceritera bahwa umat Tulagi amat mengkhawatirkan aku, terutama karena aku memaksakan diri untuk pulang dalam keadan masih sakit. Mereka bertanya terus tentang keadaan diriku. Sampai pada titik ini, aku sadar bahwa aku telah salah dalam memahami orang Solomon. Mereka juga punya hati untuk memberi perhatian, termasuk perhatian terhadap orang asing. Pada umumnya, mereka memang bukan tipe masyarakat yang ekspresif. Tidak gampang bagi mereka untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam ungkapan kata – kata. Bila terjadi sesuatu, mereka biasanya hanya duduk bergerombol sambil diam – diam saling mencari tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Tanpa ekspresi kata – kata. Tapi, sesungguhnya, aku sedang belajar memahami kedalaman hati mereka yang masih sangat sederhana dan polos tanpa berbelit – belit.tulagi

Terima kasih, umat distrik Tulagi! Aku telah belajar banyak memahamimu, sebagaimana kalian belajar memahamiku. Kultur dan bahasa kita memang berbeda. Adat – istiadat kita berbeda. Cara berpikir kita sering pula berbeda. Tapi hati kita yang memiliki perhatian dan rasa solidaritas adalah kultur universal milik bersama umat manusia, apa pun ras dan warna kulitnya.

Distrik Tulagi,

Awal Juli 2008.

Comments are closed.

%d bloggers like this: