ONGOING FORMATION SAMBIL MENUNGGU JAGUNG

Aku sebetujagung2lnya sama sekali tidak berlatar belakang petani. Tak ada seorang petani pun dalam silsilah keluargaku. Makanya, aku sendiri heran bahwa pada akhirnya aku bisa bekerja sambilan sebagai petani – ladang di samping tugas utamaku sebagai pengajar di seminari.

Semua bermula dari tanah kosong penuh ilalang dan tanaman liar di samping rumah. Bersama seorang rekan pengajar dan dua orang siswa, aku membuka lahan baru, membabat rumput – rumput dan tanaman liar sehingga tersedialah tanah sepetak yang siap ditanami. Secara kebetulan, aku mendapat bibit kacang panjang dari seorang suster. Bibit segera kutanam di ladang baru. Beberapa murid mengajariku membersihkan ladang, mencabuti rumput – rumput liar di sekitar tanaman, dan membuat gundukan tanah untuk menunjang kekuatan akar tanaman kacang yang telah nampak memanjang setelah satu bulan masa tanam. Tiga bulan sesudahnya, kebun yang sepetak itu nampak dipenuhi oleh tanaman kacang panjang yang gemuk dan lebat. Hampir setiap hari aku memetik kacang panjang. Selama satu bulan masa panen kacang panjang, komunitas tempatku tinggal mendapat suplai kacang panjang dari kebunku. Lumayan, ada sedikit dana yang bisa disimpan, atau bisa juga dana yang biasa dipakai untuk membeli sayur di pasar dipakai untuk membeli kebutuhan lain.

Sebagai seorang pemula dalam dunia berladang/bertani, panen kacang panjang adalah pengalaman istimewa dalam hidupku. Rasanya aku seperti mengalami mukjijat ketika aku melihat sendiri biji – biji yang kutanam telah bertumbuh dan memberikan hasil sedemikian rupa. Rasanya memuaskan saat aku melihat dan mengalami bahwa tanah yang kuolah dan kusiangi dari rumput – rumput liar telah memberikan kemungkinan bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur.

Semenjak panen kacang panjang itu, aku semakin termotivasi untuk bekerja di ladang. Selama beberapa hari, aku memperluas ladang dengan membuka lahan baru. Aku mulai mengembangkan tanaman tomat, kacang tanah, jagung, semangka, dan pepaya. Sampai dengan saat aku menulis kisah ini, pepayaku sedang berbuah lebat dan terus memberikan hasil yang memuaskan. Untuk makanan pokok, aku menanam ketela pohon. Tanah di pulau Guadalcanal nampaknya cukup subur untuk jenis tanaman umbi – umbian. Namun, struktur tanah dan cuacanya yang tidak menentu nampaknya kurang menguntungkan bagi tanaman padi, meski toh bisa juga menanam padi asalkan dengan kerja keras dan biaya yang tidak sedikit untuk membuka lahan dan mengolah tanah (sawah atau ladang padi membutuhkan area yang luas, sementara pulau – pulau di Solomon kecil – kecil dengan hutan dan ilalang di segala tempat). Selain tidak praktis, bagi kebanyakan orang di Solomon menanam dan mengolah padi masih terasa asing.

Di antara banyak sayur dan buah yang kutanam, jagung adalah tanaman favoritku. Aku paling setia merawat jagung setiap hari, menjaga arah pertumbuhannya agar tegak berdiri, serta menambah gundukan tanah agar akar – akarnya kokoh kuat berdiri. Hasil panen jagung, karenanya, selalu menggembirakan. Rasanya manis. Bijinya besar dan mantap. Semua itu tidak lain karena aku selalu mengunjungi ladang, mengamati pertumbuhannya, mencabuti ilalang yang akan “mencuri” nutrisi tanah, merawat, serta menjaga dasar tanah agar akar – akarnya mencengkeram tanah dengan kokoh.

Sambil menunggu panen jagung, aku berefleksi tentang betapa pentingnya merawat dan menjaga pertumbuhan hidup kita. Bahwa hidup kita memerlukan dasar yang kokoh untuk menjaga dan menunjang kekuatan hidup itu sendiri. Tanah yang kokoh amat penting bagi dasar pertumbuhan. Tanah yang baik bagi hidup bisa berarti: keyakinan, kepribadian yang sehat, wawasan yang integral dan seimbang, kesehatan mental dan tubuh, demikian seterusnya hingga setiap orang bisa menambahkan daftar yang diperlukannya bagi pertumbuhan diri sambil “menunggu jagung masak”.

Aku menyadari, de facto, merawat dan menjaga pertumbuhan bukan persoalan yang gampang bagi setiap orang. Seorang petani ladang di Solomon, misalnya, harus bersiap – siap menghadapi gagal panen apabila mereka malas merawat dan menjaga pertumbuhan tanaman. Rumput – rumput liar dan ilalang yang tinggi siap menghimpit tanaman muda dan merebut nutrisi tanah habis – habisan hingga sayur – sayuran yang ditanam bisa menjadi amat kurus dan tidak berguna. Belalang dan ulat siap memakan habis daun – daun jagung atau kubis, bahkan sejak mereka masih muda. Anjing – anjing dan babi – babi bisa berkeliaran di ladang merusak tanah dan tanaman.

Ya, sebetulnya alam telah mengajari para petani untuk tahu membaca alam, untuk hidup seturut kebijakan – kebijakan alam, mengatasi kemalasan, serta menyingsingkan lengan untuk mengolah tanah dan tanaman. Tiada manusia yang lebih gigih memperjuangkan alam dan pertumbuhan daripada seorang manusia petani. Tiada elemen kehidupan yang lebih bijaksana mengajarkan makna pertumbuhan, respek, ketekunan, dan keselarasan selain daripada alam itu sendiri. Alam adalah guru kebijaksanaan dan seorang manusia petani adalah teladan murid alam yang setia.

Sampai pada titik refleksi ini, aku menjadi bergidik dan ngeri karena aku teringat bahwa sekarang alam sedang di ambang kehancuran oleh eksploitasi dan kesombongan para pemburu profit dan finansial. Bumi menjadi makin usang dan tua untuk dihuni. Energinya makin meredup untuk menjamin kehidupan yang nyaman bagi semua orang. Bersama dengan kehancuran alam, para petani (murid alam yang setia) juga makin merintih didesak oleh situasi sulit, oleh tanah yang makin “kecanduan” pupuk kimia, atau lahan yang makin tipis akibat ditimpuki dengan supermarket dan mall atau perumahan elit.

“Sambil menunggu jagung masak”, aku mensyukuri kultur kehidupan dan pertumbuhan yang sedang terjadi di ladangku, serta meratapi kultur kematian (bahkan kematian dalam kehidupan) di banyak tempat lain.

Holy Name of Mary Seminary,

Awal Maret 2009

Comments are closed.

%d bloggers like this: