Simbol dan Perayaan Simbol (2), Berbagi Pengalaman dalam Pesta Adat Masyarakat Suafa di Kepulauan Solomon


meal-2 Pagi itu, orang sekampung Suafa Bay di Pulau Malaita sedang mempersiapkan pesta adat untuk menyambut kaum muda peserta pekan olah raga yang diselenggarakan oleh paroki Takwa. Untuk level masyarakat di Pulau Malaita, kegiatan ini memberi arti yang cukup besar. Ada banyak orang muda dari pelbagai pulau kecil di sekitar Suafa Bay dan dari kampung – kampung di pedalaman yang datang untuk berpartisipasi. Aku datang sebagai tamu sekaligus pembicara dalam salah satu sesi.

Hmeal-1al yang menarik yang kuikuti pagi itu adalah persiapan pesta adat pembukaan. Yang dipersiapkan adalah perjamuan makan. Ada begitu banyak orang terlibat untuk memasak dan menumbuk makanan dalam jumlah besar. Yang dicampur dan ditumbuk bersama – sama adalah ketela pohon, ketela rambat, dan kacang tanah. Ada sekitar 10 – 12 orang yang menumbuk ramai – ramai dalam sebuah lumpang panjang. Semuanya laki – laki. Sambil menumbuk, mereka menyanyi dengan ritme yang sesuai dengan irama tumbukan sehingga mirip canoe racing. Ketela ditumbuk lebih dulu sebelum dicampur dengan kacang yang sebelumnya juga sudah ditumbuk menjadi bubuk. Hasilnya semacam gethuk Jawa namun dengan rasa yang sama sekali berbeda. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menumbuk ramai – ramai dalam jumlah besar.

Sesudah “ritual” memasak selesai, jamuan makan pesta adat dalam rangka pembukaan pekan olah raga siap dimulai. Ada sekitar 300 – an kaum muda yang hadir. Kaum muda yang sudah berkumpul itu membentuk barisan memanjang, terdiri dari enam baris. Masing – masing barisan berhadapan dengan barisan lainnya hingga terbentuklah tiga pasang barisan yang saling berhadapan. Di sela barisan yang sedang berhadapan, daun – daun pisang diletakkan di atas tanah sebagai alas makanan. Ketela yang sudah ditumbuk bercampur bubuk kacang tanah, segenggam nasi, sayur, sepotong ikan, dan secuil daging, adalah menu untuk masing – masing orang, yang kesemuanya itu diletakkan di atas lembaran daun pisang di atas tanah. Sementara menunggu pembagian jatah makanan selesai, peserta yang sudah mendapat jatah sibuk mengusir lalat dengan daun – daun di tangan mereka.

Ketika semua peserta sudah mendapatkan jatahnya, pesta perjamuan adat pun dimulai. Semua orang duduk di tanah dan mulai meraup bongkahan nasi, “gethuk” ketela, lauk ikan dan daging, serta sayur. Semua makan dengan lahap. Tidak seorang pun menggunakan sendok. Semua dimakan dengan tangan telanjang (dalam bahasa Jawa: muluk), tanpa peduli apakah tangan kotor atau tidak.

meal-3 Sesungguhnya, aku sempat merasa jijik untuk makan pada saat itu. Betapa tidak. Semenjak makanan – makanan itu diletakkan di atas lembaran daun pisang di atas tanah, lalat tidak henti – hentinya datang berkerumun. Debu – debu jelas tidak terhindarkan hinggap di makanan. Sementara itu, tangan – tangan yang mengusir lalat nampak seringkali tidak terkonsentrasi sehingga dengan mudah lalat – lalat hinggap di mana – mana. Boleh dikata, sebenarnya sejak diolah dan dimasak rame – rame, makanan sudah tidak higienis. Ada pula tangan – tangan kotor atau campuran keringat dalam makanan. Tapi, sebisa mungkin aku berusaha untuk cuek dan tidak berpikir lebih jauh soal kebersihan makanan. Kupikir, toh banyak orang yang makan. Kalau ada yang keracunan makan, pikirku, temannya pasti banyak. Malah ada orang dari pelbagai kampung yang ikut makan, bukan hanya sekampung.

Sesungguhnya, ada realitas yang lebih dalam yang membuat semua orang makan dengan lahap tanpa berpikir lebih jauh soal kebersihan makanan, yaitu soal rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Makanan disajikan dalam kesederhanaan, sama rata sama rasa, dengan kualitas dan kuantitas makanan yang sama (sekepal nasi dan ketela yang sudah ditumbuk, sepotong ikan, secuil daging ayam, dan sayur – demikian untuk masing – masing sama takarannya, tanpa kecuali). Semua makan dengan tangan (muluk). Semua duduk di tanah. Semua itu adalah nilai kebersamaan yang sedang dirayakan. Ketika orang – orang mulai makan, rasa kebersamaan merayapi setiap orang dalam perasaan menyatu sama lain. Kebersamaan dan solidaritas itu mendapatkan kedalaman rasa dan maknanya persis ketika orang – orang sedang merayakannya.

Inilah kedalaman makna simbol yang ditemukan ketika simbol itu sendiri sedang dirayakan. Simbol yang dirayakan itu membuka diri dan menunjukkan maknanya, meskipun tidak seluruh makna secara lengkap ditangkap oleh setiap orang secara sama. Yang jelas, simbol itu menghadirkan dan membuka suatu realitas ketika setiap orang merayakannya, dalam hal ini realitas kebersamaan. Dengan kata lain, kedalaman makna itu menjadi demikian unik bagi masing – masing orang ketika ada keterlibatan dalam perayaan simbol itu sendiri.meal-4 Demikianlah, detail – detail persoalan kebersihan dan mutu makanan tidak sedikit pun terlintas di benak orang ketika mereka memulai pesta adat makan bersama. Yang dirasakan adalah rasa kebersamaan yang menyatu sama lain.

Masih ada begitu banyak simbol dan perayaan simbol di kampung – kampung di Solomon Islands yang secara bertahap dan terus – menerus telah mengukuhkan rasa identitas masing – masing suku sebagai satu keluarga besar.

Comments are closed.

%d bloggers like this: