SATU JAM DI ATAS SAMPAN

Kesunyian yang takwayasidatang tiba – tiba terasa mengejutkan. Telingaku serasa tuli dengan tiba – tiba. Rasanya aneh sekali, seperti disergap oleh kesenyapan. Aku saat ini sedang berada di atas sampan kecil di tengah – tengah lagoon di utara Pulau Malaita. Air lagoon yang tidak berombak menambah suasana sunyi, tiada terdengar deru angin maupun ombak laut. Yang terdengar hanyalah “kecipak” bunyi air yang disapu oleh dayung sampan yang kutumpangi. Ada dua gadis kecil sedang mendayung sampan di muka dan di belakangku. Sementara itu, aku duduk di tengah dan sesekali aku sibuk menguras air yang masuk sampan dengan gayung kecil. Sampan itu bocor di tengah. Ada lubang sebesar jari telunjuk tepat di dasar sampan di tengah, di dekat silang kakiku.

Aku masih sedang beradaptasi dengan telingaku yang tiba – tiba terasa tuli. Aku sadar, itu hanyalah perasaanku saja. Aku baru menyadari bahwa ini adalah efek dari perubahan lingkungan yang drastis. Dalam kehidupan sehari – hari, telinga kita sudah amat terbiasa dengan pelbagai bunyi. Kita mendengar deru kendaraan lalu – lintas yang lalu – lalang di depan rumah kita. Kita mendengar musik, orang berbicara, orang bekerja, atau bunyi binatang – binatang di sekitar kita. Bahkan di tengah malam pun, telinga kita tak juga “beristirahat” ketika kita mendengar bunyi dengung arus listrik yang mengalir di dalam lampu neon di kamar kita, atau dengung almari es (kulkas) di dapur. Di laut, sebaliknya, sejauh laut itu tenang, bunyi – bunyi sirna dari gendang telinga kita. Hanya sesekali kita sempat mendengar desah napas kita sendiri. Sesekali pula kita masih bisa mendengar bunyi air tersibak oleh laju sampan. Selebihnya hanyalah kesunyian laut yang memukau. Makanya, aku sempat tercengang oleh perasaan tuli ketika kesenyapan lagoon seakan – akan menyergap diriku dengan tiba – tiba.

Dalam kesenyapan itu, aku tiba – tiba meluap dalam perasaan akan ketiadaan (nothingness). Betapa tidak. Aku menyadari eksistensiku sebagai manusia di tengah – tengah samudera Pasifik yang luas. Aku sadar, aku masih hidup dan bernapas. Namun, aku hanyalah titik kecil di tengah kedahsyatan samudera (ini dalam arti yang sesungguhnya, sebab aku memang sedang berada di tengah – tengah samudera pasifik yang amat luas merentang dari ujung utara sampai ke ujung selatan bumi). Aku merasa kagum sekaligus takut; takjub sekaligus bergidik. Bagaimana pun, aku tidak bisa berenang andai saja ada rintangan di laut. Aku merasa sedang berada di antara ada dan tiada. “Nasibku” saat ini berada di tangan dua gadis kecil yang telah menjemputku dari rumah pastoran. Merekalah yang sedang mendayung sampan dan menguasai situasi. Mereka tahu berenang dan sudah terbiasa hidup di pulau karang di tengah – tengah lautan. Dalam pikiran – pikiran yang terus melintas dalam benakku, aku masih saja menguras air yang terus masuk sampan lewat lubang di dasarnya.

Aku berdoa dan berharap agar kami cepat sampai di pulau karang yang menjadi tujuan kami. Satu jam di atas sampan waktu itu telah banyak mengajariku tentang makna terdalam eksistensi manusia yang layak untuk disyukuri sebagai “pemberian”, rahmat, tanpa ada satu manusia pun yang berhak untuk meminta atau pun mengambilnya.

Menjelang Natal 2007

Lau Lagoon, North Malaita Region

Solomon Islands

Comments are closed.

%d bloggers like this: