Tarcisio Fiumana

tarsisius-fiumanaNamanya Tarcisio Fiumana. Aku biasa memanggilnya Tarcisio. Orang kampung memanggilnya Fiumana. Bagiku, kedua nama itu sama – sama indah terdengar di telinga. Secara fisik, Tarcisio tidak kelihatan menarik sama sekali. Orangnya pendek dan bongkok, saking bongkoknya sampai – sampai tengkuknya kadang – kadang kelihatan lebih tinggi daripada kepalanya.

Ke mana – mana Tarcisio tidak mengenakan alas kaki sehingga kulit kakinya pecah – pecah. Tubuhnya nampak hitam legam. Tarcisio memang nampak terbiasa bekerja keras sejak masih muda. Otot – ototnya nampak kekar di sana – sini. Padahal usianya saat ini sudah sekitar 65 – 70 tahun. Di usianya yang tidak muda lagi, Tarcisio masih kuat berjalan kaki. Kami pernah bersama – sama berjalan kaki mengelilingi pulau Tulagi selama 1,5 jam. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang becek dan berduri, menembus ilalang di sepanjang tepi pantai hutan bakau. Tarcisio tidak menampakkan kelelahan sedikit pun, sementara itu aku terengah – engah di sepanjang jalan dan terpaksa beristirahat beberapa kali.

Tarcisio memang betul – betul tipe orang kampung Solomon yang penuh dengan kesederhanaan. Di sepanjang hidupnya, dia jarang sekali pergi ke luar pulau Tulagi. Hidupnya sehari – hari hanya di sekitar rumahnya, di ladang, atau di Gereja. Seperti kebanyakan orang kampung di Solomon, Tarcisio tidak berpendidikan tinggi. Cukup tingkat sekolah dasar untuk bisa membaca dan menulis. Di kampungnya, cukuplah seorang pemuda tahu bekerja di ladang dan menghidupi anak – isteri. Hidupnya yang sederhana dan tidak banyak cakap membuat Tarcisio tidak menonjol dalam pergaulan di kampung maupun di kalangan umat Gereja Katolik. Dia selalu diam dalam pertemuan – pertemuan jemaat. Meskipun demikian, dia selalu setia hadir dalam aktivitas Gereja. Bila dalam suatu acara umat ditanyakan apa pendapatnya, selalu dijawabnya: “Mi no save!” (Pidgin: Aku tidak tahu!), lalu mengembanglah senyumnya yang khas. Kesederhanaan semacam ini membuat Tarcisio jauh dari bahan pembicaraan orang. Nampaknya, dia tidak terlintas dalam benak kebanyakan orang karena hidupnya yang teramat biasa itu.

Tapi, bagiku, hidup Tarcisio nampak luar biasa justru karena gaya hidupnya yang amat biasa itu. Aku masih ingat, adalah Tarcisio yang rajin mengunjungiku sewaktu aku jatuh sakit di Tulagi pada pertengahan tahun 2008 yang lalu. Tarcisio jugalah orang pertama yang selalu datang dan membersihkan Gereja sebelum kegiatan – kegiatan umat dimulai. Pada hari – hari cerah, Tarcisio jugalah yang mendahului orang – orang kampung menyapu halaman rumahnya di pagi hari, lalu bekerja di ladang dan membersihkan lingkungan dari ilalang liar. Parang di tangan Tarcisio selalu siap membabat ilalang liar di mana – mana. Pun, Tarcisio-lah yang memukul bel Gereja sehari tiga kali untuk berdoa Angelus, yang membuatnya nampak seperti jam berjalan (dan memang, ada jam tangan yang selalu setia melingkari pergelangannya). Padahal, orang Solomon secara umum dikenal sebagai timeless people, tidak pernah tepat waktu, dan sulit menepati janji. Bertahun – tahun Tarcisio menjalani hidupnya yang teramat biasa itu dengan kesetiaan dan ketekunan yang luar biasa.

Ketika Tarcisio pulang ke kampung halamannya di Pulau Malaita, banyak orang di Pulau Tulagi baru sadar bahwa Tarcisio berperan besar bagi lingkungan dan jemaatnya, sebab, sepeninggalnya, lingkungan rumahnya menjadi sangat kotor, gereja nampak amat kotor, dekil, dan berdebu, dengan daun – daun kering memenuhi lantai Gereja di mana – mana. Tidak ada orang yang memukul bel Gereja. Boleh dikata, Gereja nampak kosong dan kotor seperti kandang kambing ketika tidak ada Tarcisio di Tulagi. Kita semua amat membutuhkan “Tarcisio – Tarcisio” dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja, yang hadir dan mengubah dunia di sekelilingnya bukan dengan kata – kata belaka, tapi dengan ketekunan dan kesetiaan untuk melakukan pekerjaan – pekerjaan dalam hal – hal yang biasa namun secara luar biasa. Tarcisio dari Tulagi telah memberi teladan kesederhanaan yang mengagumkan.

Tulagi,

Minggu ke dua Maret 2009

Comments are closed.

%d bloggers like this: