AMBANG EKSISTENSIKU: BERFILSAFAT DARI TENGAH LAUT

Selama tiga puluh menit aku berjuang dengan rasa takut. Setiap kali ombak bergulung mendatangi perahu motor yang kami tumpangi, hatiku berdebar oleh rasa takut. Ketika motoris menambah kekuatan motor berkekuatan 25 HP (Horse Power) untuk mendorong perahu agar bisa melewati puncak ombak, aku berdoa dan berharap semoga mesin itu tidak bermasalah. Bisa kubayangkan, bila motor itu mati atau mogok mendadak, dalam sekejap perahu bisa digulung ombak dan kami semua terlempar ke laut. Perutku terasa mual dan pantatku begitu panas tiap kali perahu motor terbanting ke lembah ombak setelah melewati puncaknya. Selama tiga puluh menit itu aku berjuang dengan rasa takut. Aku memegang erat – erat tali perahu. Bila sampai terjadi kecelakaan, kupikir, aku masih terikat pada perahu yang mengapung dan tidak sampai tenggelam. Aku terus berpikir mencari cara menyelamatkan diri seandainya terjadi kecelakaan dan kami semua tenggelam ke laut. Masa tiga puluh menit rasa takut berhasil kulewati ketika aku mulai bisa berpasrah dan menerima situasi perjalanan laut yang tidak nyaman. Aku mulai melihat air laut bukan sebagai musuh yang mengamuk dan mau melalapku. Aku mulai melihatnya sebagai alam yang memang memiliki hukumnya sendiri. Siapa pun yang berada di dalamnya mesti mengikuti irama hukum alam, bukan melawannya. Dari situlah, aku mulai bisa merasakan diriku sebagai bagian dari deru angin dan deburan ombak yang tanpa henti bergulung di sekelilingku. Pelan – pelan aku menundukkan menara gading kekuatan rasio manusiawiku dan kekuatan kalkulasinya ke dalam desain hukum alam yang sekarang amat “powerful”.

Di belakang kami, kepulauan Nggela yang kami tinggalkan sudah jauh dan berwarna biru. Sementara itu, pulau Guadalcanal yang kami tuju juga masih sangat jauh. Perahu yang kami tumpangi saat ini sudah berada di tengah – tengah laut lepas yang sedang berdebum oleh gulungan ombak dan angin tak henti – hentinya. Motoris bersama seorang kawan di belakang sedang berjuang mengendalikan motor perahu mencari sela – sela ombak untuk dilewati dengan aman, sementara seorang kawan lagi berdiri di depan mengamati jalur bebas sampah yang bisa di lalui oleh perahu (kebetulan di laut lepas saat itu ada banyak kayu dan sampah yang mengapung bertebaran di laut lepas dan siap mengganggu perjalanan kami; mungkin kayu – kayu itu jatuh dari kapal “logging”). Kali ini aku merasa lebih tenang menghadapi kemungkinan apa pun yang bisa terjadi, termasuk kemungkinan kecelakaan di laut lepas. Kupikir, andaikan aku tenggelam dan mati di laut, aku siap “mempersembahkan” diriku (dagingku) untuk dimakan oleh makhluk hidup apa pun di dasar laut. Aku akan menjadi bagian dari plankton di dasar laut, dalam bagian – bagian alam bersama dengan orang – orang yang pernah mati dalam kecelakaan laut. Adakah yang salah dengan pikiran ini? “Taboo” – kah aku berpikir tentang hal ini? Kurasa tidak. Sebab, siapakah yang berani memastikan dirinya akan mendarat di pantai dengan aman persis pada saat dia sedang berada dalam batas antara hidup dan mati di tengah hantaman ombak laut lepas persis seperti situasi kami sekarang ini? Kesiapanku untuk “kembali ke alam” menyadarkanku akan ketegangan eksistensial tak kunjung henti antara kekuatan kalkulasi rasio manusia dengan hukum – hukum matematisnya dan kekuatan desain alam yang dalam banyak sisi belum tuntas terjangkau oleh kalkulasi matematis rasio manusia. Studi, riset, dan perkembangan hidup manusia berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah mengarahkan manusia pada kepercayaan diri dalam mengolah dan menguasai alam. Perkembangan itu toh juga tidak luput dari dampak negatif berupa ambisi manusia mengeksploitasi alam sehabis – habisnya. Di sisi lain, berhadapan dengan kekuatan alam yang “powerful” seperti yang kualami saat ini, aku tidak bisa mengelak dari keputusan untuk menundukkan kekuatan kalkulasi rasio manusiawiku pada Rasio Alam yang memiliki standard hukum dan desainnya sendiri. Aku mesti menyeimbangkan diriku dengan hukum – hukumnya. Aku kini tunduk padanya.

Adakah ini merupakan saat terakhir dari sejarah kekuatan kalkulasi rasio manusiawiku? Jawabannya sangat kondisional. Bila saat itu aku mati tenggelam dalam kecelakaan laut, jawabannya adalah ya. Namun, karena sampai saat ini aku masih hidup dan mampu mengisahkan refleksi perjalanan yang menantang ini, jawabannya adalah tidak. Artinya, hidup yang kumiliki saat ini berarti bahwa aku masih berkesempatan mengambil bagian dalam sejarah pergumulan antara rasioku dan Rasio Alam. Bahkan, arti semacam itu pun hanya dimungkinkan setelah kami mendarat di pantai dengan aman setelah selama hampir dua jam berhadapan dengan gulungan ombak laut yang ganas.

Apa boleh buat! Arti hidup itu pun kini menjadi kondisional juga, tergantung pada hidup itu sendiri. Ke – TIADA – an atau ke – ADA – an hidup membuka kemungkinan interpretasi baru.

Puff!!! Aku kini terkapar kelelahan di tepi pantai.

Comments are closed.

%d bloggers like this: