CLEMENT

“Selama aku di sini, kamu juga tinggal di sini, makan dan tidur di sini. Jangan khawatir! Oke?”

Clement yang saat itu sedang duduk sambil makan di hadapanku hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Mulutnya sedang penuh oleh nasi. Dia lalu tersenyum menunjukkan giginya yang patah dan berlubang di sana-sini.

Aku sejenak termenung mengamati tubuh kerempeng Clement di hadapanku. Aku jatuh oleh rasa iba yang tak terkira. Dalam usia sekitar 11 – 12 tahun, Clement hidup seperti tak punya rumah. Dia sebenarnya punya rumah. Tapi Clement tidak suka tinggal di rumah. Dia selalu berkeliaran ke sana ke mari tak menentu. Aku mencoba menghindari untuk bertanya, “Mengapa?” Clement tampaknya tak terlalu suka ditanyai soal ayah atau ibunya. Dengan gaya ala anak-anak, dia selalu menjawab ketus bila ditanyai orang soal mengapa dia tidak betah di rumah. “Malas!”, begitu jawabnya.

Clement bukan hanya tidak suka tinggal di rumah. Dia juga tidak betah di sekolah. Cukup sering dia bolos sekolah. Dia menghilang entah ke mana. Karena mau menghindari pertanyaan gurunya mengapa dia kerapkali bolos sekolah, akhirnya Clement malah tidak mau bersekolah sama sekali.

Di dekat tempatku tinggal di Tulagi, ada keluarga paman dan bibi Clement serta beberapa sanak familinya. Setiap kali aku bertanya soal Clement, ada nada jawaban yang selalu sama: “Dia anak nakal. Sudahlah, jangan diurusi! Percuma!” Bahkan beberapa orang nampak segan memberikan jawaban. Setelah beberapa kali mendapatkan tanggapan yang sama, aku akhirnya memilih berhenti bertanya soal Clement pada sanak familinya. Bagiku, pelbagai jawaban itu sudah cukup menunjukkan bahwa sanak familinya tidak mau peduli lagi pada Clement dan menganggapnya sebagai anak nakal.

Oleh karena itu, pada kesempatan tinggal selama dua minggu di Tulagi, aku memutuskan untuk “mengadopsi” Clement. Kuminta dia tinggal bersamaku. Beberapa anak muda yang juga tinggal bersamaku kuberi sedikit keterangan tentang maksudku menyuruh Clement tinggal bersama kami. Selama tinggal bersama-sama dengan kami, Clement sebenarnya cukup patuh. Pada hari-hari pertama, kusuruh dia mandi sehari dua kali, bahkan kadang-kadang agak kupaksa bila dia memang segan untuk mandi. Clement memang tidak terbiasa mandi berhari-hari sehingga badannya memang sangat bau. Dia juga kuminta mengganti baju sehabis mandi. Dia bilang tidak punya baju, maka kuberi dia beberapa helai kaos. Esok harinya, salah satu kaos itu kutemukan di kolong tempat tidur.

Ketika kutanya mengapa kaos itu ada di sana, dia bilang: “Panas. Malas pakai baju.”

“Okelah. Tapi yang penting kamu mandi”, jawabku.

Pernah selama dua hari Clement tidak ada bersama kami. Dia pergi entah ke mana. Setelah dua hari dia muncul lagi. Tubuhnya sudah bau lagi seperti semula. Tubuh kerempeng itu tidak berpakaian lagi, hitam legam, dan kotor lagi.

Kutanya dia dalam bahasa Pijin Solomon: “Hai boy, yu go lo wea?” (Hai bocah, ke mana saja kamu pergi?). Clement tidak menjawab. Hanya tertawa kanak-kanak.

“Hai, mi askem yu ya! Yu go lo wea?” (Aku sedang bertanya pada kamu ya. Ke mana saja kamu pergi?)

“Mi plei plei”, jawab Clement seenaknya.

“Ai, yu plei plei olowe. Yu mas stap lo hia, lanem staka samting ya. Yu go lo swim nao. Kuiktaem” (Hah, kamu bermain-main terus-terusan. Kamu mesti tinggal di sini dan belajar banyak hal. Sekarang kamu mandi sana, cepat).

Mendengar nada hardikanku yang meninggi, Clement segera mengambil salah satu handuk di sampiran lalu menuju ke kamar mandi. Aku tahu, sebenarnya dia malas mandi. Tapi karena ada rasa takut padaku, dia toh berangkat mandi juga.

Siang itu sengaja kusempatkan duduk mengobrol dengan Clement di beranda depan rumah. Kebetulan anak-anak muda lainnya sedang tidak ada di rumah. Semua sedang pergi ke luar rumah dengan urusan masing-masing. Sambil iseng namun berhati-hati, aku mulai bertanya-tanya pada Clement tentang sanak saudaranya. Di rumahnya, Clement hidup dengan ayah dan ibu tirinya. Ibu kandungnya tinggal jauh di pulau Malaita. Dia tidak pernah menjenguk Clement. Clement tidak betah tinggal di rumah dengan ayah kandung dan ibu tirinya (wanita yang dinikahi ayahnya setelah meninggalkan ibu kandungnya). Ayahnya amat keras dan sering memukulnya bila Clement melakukan kesalahan. Ibu tirinya juga sering mengata-ngatainya. Clement juga tidak mau bermain dengan saudara-saudara tirinya. Itu semua membuat Clement memilih lari dari rumah dan berkeliaran sepanjang hari. Ke mana saja, asalkan tidak di rumah.

Mendengar ceritera dari mulut Clement, aku menjadi sangat iba. Dari dalam hatiku, aku bertekad untuk memberi perhatian lebih padanya. Clement menjadi “anak nakal” dan tidak mau mendengarkan nasehat bibi, paman, dan sanak familinya, karena ia memang mau menunjukkan eksistensinya. Ada perasaan “ditolak” ketika dia berhadapan dengan perlakuan ayah kandung dan ibu tirinya (bahkan mungkin juga oleh sikap ibu kandungnya yang tidak pernah mengunjunginya). Perlakuan demi perlakuan dirasakan Clement sebagai penolakan atas dirinya. Itulah yang membuatnya akhirnya “kehilangan rumah” yang membuatnya merasa at home dan “pulang”. Kenakalan Clement sesungguhnya adalah caranya untuk meminta perhatian dari orang dewasa. Dan ketika perhatian itu tidak dia dapatkan, semakin Clement menunjukkan bahwa dia memang “nakal”. Itulah setidaknya yang bisa kumaknai dari ceritera Clement siang itu.

Padahal, selama dia tinggal bersama kami, Clement masih mau bila kusuruh mencuci piring, membersihkan rumah, dan mandi sehari dua kali. Setidaknya, itu menjadi tanda bahwa Clement masih mau dan bisa dididik.

Ketika hari tiba bagiku untuk kembali ke Honiara, hatiku terasa pedih. Bukan oleh romantisme perpisahan dengan Clement, tapi oleh keprihatinanku pada Clement. Kami akan meninggalkan Clement selama sembilan bulan sebelum kami kembali lagi ke Tulagi. Selama waktu itu, aku berkeyakinan tidak ada orang dewasa yang mau mendampingi dan mendidik Clement. Aku punya firasat buruk. Ada kekhawatiran luar biasa dalam diriku terhadap “nasib” Clement.

Kini, aku kembali lagi ke Tulagi setelah masa sembilan bulan itu berlalu, dan kekhawatiranku sembilan bulan yang lalu cukup beralasan. Kini aku tidak bisa lagi “menemukan” Clement. Menurut orang-orang kampung, Clement sekarang adalah “juara termuda” di antara para pemabuk, penjudi, dan perokok.  Dia tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman sepermainan. Dia selalu bergaul dengan anak-anak muda pengangguran yang memang cukup banyak di situ. Dia berada di bawah pengaruh kebiasaan buruk masyarakat setempat.

Hatiku kembali jatuh oleh rasa sedih dan keprihatinan yang luar biasa. Aku seperti kehilangan barang berharga yang semula kugenggam erat-erat, tapi kemudian lepas karena hanyut dibawa arus air deras. Dan hilang begitu saja. Apa boleh buat.

Clement bagiku adalah korban. Dia adalah korban dari situasi keluarga yang tidak bahagia dan broken home. Dia adalah korban dari masyarakat yang tidak sehat oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mengerak. Dia adalah korban dari penghakiman orang dewasa yang tidak memahami dunia kanak-kanak. Aku semakin menyadari betapa penting dan mendalamnya makna keluarga yang memberikan rasa at home dan yang memungkinkan anggota-anggotanya untuk “pulang”. Keluarga yang home akan menumbuhkan perasaan aman bagi anggota-anggotanya untuk tinggal di dalamnya dan mendapatkan kasih yang secukupnya untuk bertumbuh.

Clement kini benar-benar pergi mencari “home”, dengan apa atau dengan siapa dia menemukan makna untuk “pulang”.

 

 

Comments are closed.

%d bloggers like this: