“IMAN YANG MENJAGA DALAM KETIDAKPASTIAN”; KISAH PERJALANAN LAUT PERTAMAKU KE HONIARA

KETIDAKPASTIAN PERJALANAN

Malam itu adalah hari Selasa, tanggal 7 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 23.20. Dengan bergegas kami berjalan menyusuri jalan setapak menurun menuju ke pantai di Rochera. Dibutuhkan waktu selama 30 menit untuk menyusuri jalan setapak itu agar kami sampai di pantai di Rochera. Terang bulan amat benderang yang membuat malam itu seperti sore hari. Aku masih mengantuk. Beberapa menit lalu, tidur lelapku diputus oleh ketukan pintu kamar. Seseorang membangunkanku dan mengajakku segera berangkat. Untungnya, segala perbekalan dan tas sudah kusiapkan sejak siang harinya sehingga aku sudah siap berangkat kapan pun.

Malam itu kami berangkat meninggalkan kampung Koukousurisau yang kutinggali pada hari-hari terakhir ini selama hampir dua minggu. Kami menuju port di Afio. Di Afio, kami akan menunggu kapal yang baru datang dari Honiara. Perahu terbuat dari aluminium sudah menunggu kami di pantai di Rochera. Perahu bermesin 25 HP (Horse Power) itu siap mengantar kami ke Afio.

Perjalanan dengan perahu dari Rochera ke Afio membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Laut cukup tenang malam itu sehingga perjalanan lancar. Kecipak air terdengar memecah di antara aluminium boat dan beberapa kali menciprat naik, yang membuat kami beberapa kali mesti mengusap wajah yang basah oleh air laut. Sinar terang bulan amat membantu driver untuk menghindari karang-karang berbahaya yang bisa mengganggu perjalanan kami. Kami berenam orang di perahu itu, duduk diam-diam sambil berharap agar malam itu kami mendapatkan tempat di kapal, sebab diduga kapal akan sarat oleh penumpang. Pergelangan tangan dan sendi-sendiku tiba-tiba agak mengejang. Perutku melilit. Ini adalah tanda-tanda kegugupan. Ya, aku gugup. Ada begitu banyak kepastian dalam perjalananku kali ini. Perjalanan malam itu pun berbekal ketidakpastian ke mana kapal akan membawa kami dan berapa hari kami akan berada di atas kapal sebelum kami betul-betul bisa balik lagi ke Honiara. Belum lagi kekhawatiran akan perbekalan yang bisa habis setiap saat karena ketidakpastian lamanya perjalanan laut. Bahkan, ketika kapal siap berangkat pun, ada kemungkinan perjalanan ditunda pada detik-detik terakhir bila ada tanda-tanda bahaya ombak dan badai laut. Ada begitu banyak ketidakpastian dalam perjalanan kami yang membuatku gugup. Kami bisa terkatung-katung dalam perjalanan setiap saat.

DARI AFIO KE SOUTH MARAMASIKE

Begitu sampai di Afio, kami segera merapat ke pantai dan mendarat. Kami segera menemukan pasar yang kosong malam itu sebagai tempat darurat untuk meneruskan istirahat sampai kapal tiba dari Honiara. Di tengah kerumunan nyamuk jumlahnya puluhan, serta deru angin laut yang kadang-kadang cukup kencang, dan lantai pasar yang cukup dingin, aku segera meneruskan tidurku sebisa mungkin agar aku punya cukup waktu untuk istirahat. Di kapal, aku jelas tidak bisa beristirahat.

Pada pk. 04.30 tanggal 8 Juli 2009, hari Rabu dini hari, kami boarding kapal di Afio setelah selama hampir dua setengah jam kami bersabar menunggu kapal unloading di dermaga. Selama hari itu, kami akan mengikuti kapal ke arah selatan pulau Maramasike (Small Malaita) untuk unloading di setiap port. Dari port ke port di beberapa kampung besar ke arah selatan pulau Maramasike, kapal melakukan unloading. Proses unloading untuk setiap port memakan waktu cukup lama, bisa sampai tiga jam. Ada begitu banyak penumpang dan material bisnis (market) yang diturunkan. Selain itu, di seluruh port di wilayah selatan pulau Maramasike tidak ada dermaga sehingga proses unloading dilakukan di tengah laut dengan bantuan satu motor boat. Sementara kapal berhenti di laut, motor boat bisa bolak-balik 4 – 5 kali dari kapal ke pantai untuk membawa penumpang dan material.

Kampung terakhir untuk unloading adalah Malo’u. Waktu itu jam sudah menunjukkan pk. 18.30. Jadi, sehari penuh kapal mengitari pulau Maramasike dan melakukan unloading. Kapal baru bisa menaruh jangkar dan berlabuh di kampung Fanalei sekitar pk. 19.00. Malam itu kami tidur di kapal untuk menunggu perjalanan esok harinya.

Kali ini kegugupanku mulai mereda setelah ada kepastian bahwa kami boleh tidur di kapal. Semula ada berita bahwa para penumpang harus turun dari kapal dan tidur di pulau Fanalei. Hal itu jelas tidak mungkin bagiku. Aku tidak mengenal siapa pun di Fanalei. Lagipula jelas tidak ada tempat penginapan di situ, sebab Fanalei adalah sebuah pulau karang kecil. Aku semakin merasa tenang ketika mengetahui bahwa kebanyakan penumpang yang malam itu mengikuti kapal adalah orang-orang kampung Kouousurisau yang sudah mengenalku. Bahkan di luar dugaanku, seorang gadis menawariku sepiring nasi, ketela, dan satu paha ayam. Rasanya tawaran ini begitu istimewa bagiku di tempat asing seperti ini. Oh, terima kasih, ucapku padanya.

Sore itu, aku melakukan doa Ibadat Sore hari Rabu pekan ke dua di lambung kapal, sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam. Cahayanya yang temaram kuning kecoklatan memantul dan semakin menghilang di permukaan air lagoon yang tenang. Ketika semua kuterima dengan gembira, aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang mulai menyelimuti diriku.

SEHARI UPLOADING

Kamis, tanggal 9 Juli 2009, di tengah-tengah hujan badai, kapal mulai menarik tali dan jangkar dari pulau karang Fanalei pada pk. 04.30. Sejak pk. 03.00 aku sudah bangun dan bergegas berdoa rosario memohon keselamatan perjalanan hari itu lewat doa-doa dari Bunda Maria dari Sorga. Para penumpang yang semula tertidur lelap di lantai kapal terkejut dan bangun dalam kegugupan. Kami semua bergerak ke bagian tengah kapal agar tidak basah terkena hujan.

Pagi itu, kapal memulai proses uploading dari kampung Malo’u. Kampung terakhir yang kami datangi kemarin menjadi kampung pertama untuk uploading. Proses uploading cukup berat karena cuaca yang tidak menentu. Langit amat hitam oleh mendung tebal. Hujan juga turun tidak menentu, kadang amat deras, kadang agak mereda. Situasi itu masih diperburuk oleh mesin motor boat yang tidak bekerja dengan baik sehingga untuk proses uploading dari pantai ke kapal, crew kapal menggunakan dayung (di semua port di Maramasike tidak ada dermaga yang membuat kapal bisa merapat ke pantai).

Beberapa penumpang terdengar menggerutu oleh cara kerja crew kapal pada hari itu. Nampaknya hampir semua penumpang tahu, bahwa malam sebelumnya mereka mabuk-mabukan di lantai dasar kapal. Akibatnya, proses uploading hari itu berjalan amat lamban karena para pekerja itu kelihatan mengantuk dan kelelahan akibat kurang istirahat. Di salah satu port, proses uploading bahkan bisa memakan waktu sampai 5 jam. Ini berarti hampir setengah hari kami terkatung-katung di tengah laut hanya untuk menunggu kapal mengisi muatan. Beberapa penumpang bahkan mengangkat sendiri karung-karung berisi beras atau kelapa dari motor boat ke atas kapal. Beberapa penumpang di kapal membantu mengangkat karung-karung itu sambil meneriaki crew kapal agar bekerja lebih aktif dan giat agar kapal bisa segera berangkat.

Pada pk. 19.00, kapal tiba kembali di pelabuhan Afio; pelabuhan yang kami singgahi untuk pertama kalinya pada dini hari sebelumnya. Di Afio, kapal tidak merapat ke pantai karena sudah terlalu sarat oleh penumpang. Padahal, di dermaga, ada begitu banyak orang yang menunggu untuk diangkut. Beberapa orang terdengar marah dan berteriak-teriak sehingga situasi amat krusial dan riskan akan keributan atau kekacauan antar penumpang. Untungnya, tidak ada kejadian yang tidak diharapkan.

PERJALANAN KE HONIARA

Kapal meninggalkan pelabuhan Afio pada pk. 19.50 pada hari Kamis, 9 Juli 2009. Setelah sekitar 15 menit kapal bergerak, kapal berhenti. Kapal berhenti dan terapung-apung di atas air sekitar 2 jam. Didapat berita bahwa cuaca, ombak, dan angin di tengah-tengah laut tidak menentu. Kapten kapal menunggu kepastian keselamatan perjalanan. Bahkan, amat mungkin kapal bergerak balik lagi ke Afio apabila memang perjalanan laut diperkirakan terlalu berbahaya.

Berita ini memang tidak mengenakkan semua penumpang, termasuk diriku. Aku sudah membayangkan situasi terburuk perjalanan laut yang penuh ombak, basah, dan tidak nyaman sama sekali. Tapi aku kali ini jauh lebih siap untuk menghadapi dan menerima situasi semacam itu. Aku bahkan sudah menemukan posisi duduk yang bisa “menyelamatkanku” dari mabuk laut.

Setelah selama dua jam kapal terapung-apung tidak menentu, kapten kapal memutuskan untuk berangkat ke Honiara. Nampaknya ada kepastian keselamatan perjalanan laut. Dengan beberapa doa Bapa Kami dan Salam Maria, aku mengikuti gerak kapal dalam riak-riak ombak tanpa henti. Di luar dugaan semua orang, laut malam itu sangat tenang. Terang bulan bersinar amat terang, memantulkan sinarnya ke permukaan air laut yang tenang. Kapal yang sarat penumpang itu bergerak pelan menuju Honiara. Di sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya mensyukuri perjalanan ini. Doa-doaku yang tak kunjung putus mengiringi perjalanan dan rasa syukur ini.

Pada pk. 06.10 hari Jumat tanggal 10 Juli 2009, kapal merapat di pelabuhan Honiara. Honiara masih berselimutkan pagi hari yang sejuk dan cerah. Hatiku meluap oleh rasa syukur akan anugerah Yang Ilahi oleh pengalaman perjalanan ini. Ketika ketidakpastian berakhir dengan keselamatan, kegembiraan dan rasa syukur ini terasa meluap dan berlimpah dari dalam hati, bahwa Yang Ilahi mendengarkan doa-doa dan menjaga keselamatan perjalanan.

Syukur padaMu dan pujian bagiMu, Yang ada di Sorga, di langit, dan di bumi.

Pujian dan kemuliaan bagiMu.

Amin.

Comments are closed.

%d bloggers like this: