VERONICA

Veronica kecil terus menangis digendong Veronica besar. Veronica kecil belum genap berusia setahun, sementara Veronica besar sekitar 7 – 8 tahun. Keduanya kakak beradik. Keduanya bernama Veronica. Veronica kecil yang telanjang bulat terus menggeliat dan meronta-ronta sambil menangis yang membuat tubuh mungil kakaknya kerepotan menggendong dan menahan si kecil Veronica agar tidak jatuh. Veronica besar hanya memakai rok pendek sementara bagian atas tubuhnya yang hitam legam dibiarkan telanjang. Kedua tubuh mungil itu akhirnya tampak kelelahan karena meronta dan menahan. Setiap hari semenjak aku datang di kampung Nari’aoa, kedua bocah mungil itu selalu bermain di sekitar rumah tempatku tinggal. Tangisan dan lolongan bayi Veronica menghiasi keseharianku di kampung ini.

“Berapa jumlah saudaramu?” tanyaku suatu hari pada Veronica besar.

Gak tahu!” jawabnya.

“Lho, kok kamu tidak tahu?”

Mi garem tufala sista an brata long Honiara. Tufala nomoa olketa dae finis”, Veronica menjawab pertanyaan keherananku dalam bahasa Pidjin Solomon. Artinya, dia memiliki dua saudara laki-laki dan perempuan di Honiara, sementara dua lainnya sudah meninggal.

Kucoba menghitung. Ada empat saudara yang tidak dikenalnya, sementara ada empat orang anak yang tinggal di rumah mereka termasuk Veronica besar dan kecil. Jadi, berarti mereka ada delapan bersaudara bila keterangan Veronica benar.

Veronica besar memang sudah bisa diajak berbicara seperti orang dewasa meski usianya baru sekitar 7 – 8 tahun. Dia pun nampak sudah terbiasa menggendong adiknya ke sana ke mari. Ibunya jarang sekali muncul di rumah. Mungkin saja dia mengurus ladang yang letaknya cukup jauh dari kampung. Beberapa orang kampung yang kutanyai mengatakan bahwa suaminya tidak jelas kerjanya. Sudah tiga tahun ini dia merantau ke ibukota Honiara, tapi tetap saja dia menganggur di sana, lantas tidak mau kembali lagi ke kampung. Isteri dan anak-anak yang masih kecil di kampung ditinggalkannya, sementara anak-anak yang di kota menjadi beban bagi sanak familinya yang lain.

Fenomena orang meninggalkan kampung dan memilih hidup di ibu kota Honiara cukup sering terjadi di Solomon. Banyak orang tertarik merantau dan mengadu nasib di ibu kota Honiara, meninggalkan anak-anak dan isteri atau suami di kampung. Daya tarik ibu kota amat besar bagi orang-orang kampung.

Veronica besar tidak bersekolah. Dalam keseharian, tugasnya adalah menjaga adik-adiknya, menggantikan peran ibunya sementara berladang atau melaut mencari ikan. Tidak jarang terjadi Veronica kecil terjatuh atau merangkak masuk ke selokan di dekat rumah karena Veronica besar melepaskannya. Veronica besar juga mau bermain-main tanpa merasa diganggu oleh adiknya. Melihat Veronica besar, hatiku tumbuh oleh rasa empati. Saat-saat bermainnya menjadi berkurang karena tugasnya menjaga adiknya. Saat-saatnya bersosialisasi dengan teman-teman sepermainan hilang karena dia mesti selalu di rumah menggantikan peran ibunya; sementara ibunya bekerja menyambung hidup untuk menggantikan peran suaminya.

Di Solomon, ada cukup banyak anak seperti Veronica kecil dan Veronica besar. Mereka ditinggalkan oleh kedua orang tua karena merantau. Persoalan ekonomi seringkali menjadi kambing hitam. Tapi lebih dari itu, anak-anak itu sesungguhnya adalah korban dari mengeraknya masalah sosial, terutama persoalan ketiadaan sarana pendidikan dan skill yang menjadi masalah sosial yang utama yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah. Banyak orang kampung merantau ke ibukota tanpa bekal yang cukup untuk mendapatkan mata pencaharian. Akhirnya, mereka menambah barisan panjang pengangguran di ibu kota (yang tentu membawa risiko kenaikan tingkat kriminalitas ibu kota), sementara anak-anak di kampung juga semakin kehilangan figur orang tua serta segala kesempatan yang mereka perlukan untuk bertumbuh secara wajar.

Aku memilin rambutku, memikirkan semua itu, sementara di depanku Veronica besar kembali “bergulat” menahan Veronica kecil yang kembali meronta-ronta minta turun dari gendongan.

 

 

END OF JUNE, 2009

Comments are closed.

%d bloggers like this: